Episode Delapan Serial Web “Atap Padang Mahsyar”: Menjemput Kebaikan

“Islam itu perilaku, bukan baju. Baju saya seperti ini di mata Allah belum tentu lebih baik dari kamu yang pakai baju seperti ini,” ujar Ustaz Bukhori.

Atap Padang Mahsyar
Atap Padang Mahsyar Episode 8. (ACTNews)

ACTNews, JAKARTA -  Ada kegelisahan di hati Arul yang ia sampaikan kepada Kiai Bukhori. Arul khawatir, kegiatan bagi-bagi makanan yang akan diselenggarakan di musala Baiturrahman, apakah bisa membuat maling-maling di kampung tersebut tidak mencuri lagi.

Ustaz Bukhori memberikan jawaban dengan menjelaskan bahwa hanya Allah yang mengetahui hati seseorang. Ustaz yang jadi imam di musala Baiturrahman ini, juga tak bisa memastikan pencuri itu akan tergerak hatinya. Ia hanya bisa berusaha berbuat baik dengan memberikan makanan gratis agar pencuri-pencuri tersebut tidak lagi kelaparan dan mencuri hanya untuk bisa makan.

“Yang penting kita sudah ikhtiar memberikan pilihan selain mencuri. Ini ada tambak ikan buat lauk, di sana kita tanam buah dan sayuran untuk makan. Sisanya bisa kita jual, kita beli beras,” ujar Ustaz Bukhori yang sedang berbincang dengan Arul di pinggir tambak.

Melihat niat mulia Ustaz Bukhori, Arul berterima kasih karena sejak berada di musala, ia bisa menemukan wajah Islam yang sangat indah. Arul mengatakan bahwa ia telah mencari Islam ke mana pun, tetapi ia hanya mendapatkan Islam yang ‘samar-samar’. 

Arul semakin menyimak Ustaz Bukhori yang menjelaskan bahwa Islam seharusnya tercermin dari akhlak, bukan pada atribut yang dikenakan. Orang yang berpakaian islami belum tentu lebih baik dari orang lainnya. 

“Islam itu perilaku, bukan baju. Baju saya seperti ini di mata Allah belum tentu lebih baik dari kamu yang pakai baju seperti ini,” ujar Ustaz Bukhori.

Ustaz Bukhori kembali bercerita ke Arul tentang salah satu kisah sahabat Rasulullah, yakni Umar Bin Khattab, yang menggendong beras untuk diantarkan ke rakyatnya yang kelaparan. Dari kisah ini, Ustaz Bukhori menyandingkan Arul dengan Umar Bin Khattab karena telah mencontoh sikapnya, dengan menjual kamera hanya untuk menyediakan makanan di musala untuk warga.

“Siapa yang jual kiyai. Masih ada kok,” ujar Arul berusaha menutupi apa yang telah ia lakukan.

Beberapa saat kemudian, makanan untuk warga telah siap tersaji dalam kotak-kotak besek, namun tak ada satu pun warga kampung yang datang. Hanya jemaah tetap musala yang bersiap menyambut warga. Padahal Tarban telah memberitahu warga kampung bahwa akan ada pembagian makanan gratis tanpa melewatkan satu orang pun. 

“Atau jangan-jangan mereka sadar kali kalau sedang diumpanin, ini buktinya gak pada nongol,” ujar Tarban. Tapi Arul berprasangka lain, ia merasa warga malu untuk datang karena tidak gampang untuk membuat orang yang tidak pernah ke musala lalu tiba-tiba datang ke musala.

Tetapi, Kiyai Bukhori langsung mengambil kotak-kotak makanan dan menentengnya dengan di dua tangan. Ditanya oleh Tarban, mau ke mana, Ustaz Bukhori menjawab bahwa ia akan mengantarkan makanan ini satu per satu ke rumah warga.

"Manja banget pakai dianter-anter segala," ketus Tarban.

“Kalau mau berbuat baik juga jangan manja. Mana ada orang ongkang-ongkang kaki masuk surga,” ujar Ustadz Bukhori.

Bagaimana hasil usaha Kyai Bukhori, Tarban, dan jemaah lainnya dalam menjemput kebaikan?Nantikan jawabannya di Serial Web Atap Padang Mahsyar episode berikutnya, pukul 17.30 hanya di kanal Youtube ACT TV.[]