Episode Enam Serial Web “Atap Padang Mahsyar”: Dilema Memperbaiki Atap dan Akhlak

“Rasulullah diutus itu untuk memperbaiki akhlak, bukan memperbaiki rumah ibadah,” kata Kiai Bukhori.

Atap Padang Mahsyar episode enam
Atap Padang Mahsyar episode ke-6. (ACTNews)

ACTNews, JAKARTA — Jamaah musala Baiturrahman digegerkan dengan peristiwa pencurian di rumah-rumah warga. Bukan hanya barang-barang yang digondol maling, tetapi juga makanan yang habis dimakan. Padahal lingkungan sekitar musala selama ini merupakan wilayah yang aman dari maling. 

Jamaah menduga, maraknya peristiwa pencurian akibat pabrik tekstil terdekat bangkrut. Banyak karyawan di PHK dan menganggur sehingga keluarga-keluarga yang kelaparan muncul.

Kejadian tersebut membuat Kiai Bukhori meminta jemaah memikirkan ulang rencana merenovasi atap musala yang rusak. “Apa pantas kita bangun atap musala kita, sedangkan di lingkungan kita banyak maling? Apa pantas kotak amal kita kekepin, tapi orang lapar kita biarin?” tegas Kiai Bukhori dalam salah satu dialog di serial web Atap Padang Mahsyar episode-6.

Kiai Bukhori pun berinisiatif membuat dapur umum untuk mengundang orang-orang yang kelaparan. Uang operasional dapur umum menggunakan biaya renovasi atap musala dari kotak amal yang saban malam dikekepin Tarban. 

“Musala kita harus bisa memberikan solusi lebih cepat dan lebih menggiurkan daripada apa yang ditawarkan iblis. Ajak mereka (para pencuri akibat kelaparan) salat di sini, lalu kita kasih makan,” ujar Kiai Bukhori.

Namun rencana ini ditolak Idris. Kiai Bukhoti meminta memikirkan ulang rencana pembuatan dapur umum karena uang yang dikumpulkan bukan uang Kiai Bukhori semata, melainkan uang urunan dari jemaah. Sedangkan jemaah ingin uang yang telah dikumpulkan digunakan untuk merenovasi atap musala yang nanti akan menjadi atap di Padang Mahsyar. 

“Itu semua baik, tetapi dalam situasi sekarang ini, membuat dapur umum lebih mendesak daripada merenovasi atap musala. Kalau atap ini (musala) ambruk, kita masih salat di rumah. Tapi kalau akhlak yang ambruk karena perut, rasanya punya musala yang bagus pun nanti hanya akan mengolok-olok kita. Ingat Rasulullah diutus itu untuk memperbaiki akhlak, bukan memperbaiki rumah ibadah,” jawab Kiai Bukhori.  

Bisakah jemaah musala Baiturarahman meneruskan renovasi atap? Apakah uang yang terkumpul akhirnya digunakan untuk membuat dapur umum? Saksikan kelanjutannya di Youtube Aksi Cepat Tanggap.[]