Erni, Tunanetra yang Sisihkan Penghasilan untuk Rumah Tahfiz

Dari hasil usahanya berjualan kerupuk keliling, Erni (58) tidak hanya berniat mencari pemasukan belaka. Sebagian dari keuntungan ia sedekahkan untuk mengelola rumah tahfiz khusus untuk teman-temannya sesama tunanetra.

borong dagangan umkm
Erni (kiri) sehari-hari berjualan kerupuk ditemani rekannya seorang tunanetra. (ACTNews)

ACTNews, KOTA BOGOR – Ketika Erni (58) naik angkot, ia mendengar tangisan seorang anak. Anak itu terus merengek meminta kepada orang tuanya untuk membeli kerupuk kulit yang sedang dibawa Erni. Erni kemudian tergerak memberikan beberapa kerupuk kulit secara cuma-cuma kepada ibu tersebut dan anaknya.

“Mungkin enggak ada duit atau bagaimana, akhirnya saya kasih saja itu kerupuknya. Ibunya si anak menolak sih, tapi enggak apa-apa, kata saya. Soalnya saya juga punya cucu jadi keinget cucu aja,” cerita Erni pada Selasa (17/8/2021).

Erni menduga kejadian selanjutnya saat ia bertemu Global Wakaf-ACT Bogor, adalah balasan langsung dari Allah. Global Wakaf-ACT langsung memborong seluruh dagangan Erni melalui program Borong Dagangannya Tambahin Modalnya. “Alhamdulillah, mungkin ini balasan dari Allah,” ucap Erni.


Pada awalnya Erni tak langsung percaya kepada tim. Sebab dari pengalaman dia berjualan, beberapa orang justru memanfaatkan keterbatasannya yang mengalami tunanetra. Sempat Erni ditipu orang, mulai dari barang dagangan yang dicuri, bahkan sampai kehilangan uang.

“Waktu itu pernah ada orang katanya mau pesan kerupuk sampai Rp500 ribu, setelah ngobrol-ngobrol orang tersebut ngajak salat ashar di masjid. Setelah selesai salat, barang-barang pada hilang, termasuk HP. Jadi ya sudah, dari situ mulai hati-hati sama orang," kisah Erni.

Rumah Tahfiz Jadi Motivasi

Semangat Erni berdagang tidak hanya didorong untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga rumah tahfiz yang kini ia kelola. “Jadi dari hasil berjualan ini, sebagian uangnya juga untuk bikin kegiatan pengajian sama mengembangkan rumah tahfiz. Santri-santrinya itu teman-teman saya, para penyandang tunanetra juga,” jelas Erni yang juga ikut belajar tahfiz.

Sebelumnya, uang untuk kebutuhan dan mengelola rumah tahfiz, ia dapatkan dari usaha jasa pijat. Tetapi karena pandemi, usaha pijat Erni sepi dari pasien dan ia mencari jalan lain untuk mencari pemasukan. Baru tahun ini Erni berjualan kerupuk, ditemani oleh seorang rekan.


Akhirnya saya jual kerupuk jalan kaki. Kadang ke wilayah Ciawi, Katulampa, Padjajaran, sampai Tanah Baru, Kota Bogor. Kan rezeki juga harus dijemput, bukan kita yang bergantung pada pembeli yang datang,” ungkap Erni.

Niat mulia ini pun sedikit terbantu dengan kehadiran dana wakaf para dernawan melalui Global Wakaf-ACT. Dagangan Erni hari itu habis, serta ia mendapatkan tambahan modal untuk kembali berdagang esok hari. Di akhir pertemuan, tim mengantarkan Erni ke rumah di sekitar Bogor Timur. []