Eskalasi Konflik, Kelaparan di Suriah Bertambah Parah

Eskalasi membuat lahan-lahan pertanian terbakar di sejumlah wilayah.

Eskalasi Konflik, Kelaparan di Suriah Bertambah Parah' photo

ACTNews, IDLIB – Serangan kembali menghantam sejumlah kota dan desa di Suriah. Eskalasi itu terjadi di wilayah barat laut Suriah. Akibat kejadian itu, distribusi makanan ke wilayah-wilayah terdampak pun terhalang, seperti diperingatkan oleh agensi pangan PBB.

Selain itu, PBB juga menyatakan distribusi pangan ke wilayah selatan Idlib sudah terganggu sejak eskalasi 30 April lalu, sebagaimana ditulis Al Jazeera pada Selasa (11/6) lalu.

Program Pangan Dunia (WFP) menyatakan hal senada. Menurut mereka, sangat sulit mendistribusikan pangan kepada 7.000 orang yang berada di wilayah Qalaat al-Madiq, daerah yang selama ini intens mengalami pertempuran, sejak Mei lalu.

PBB juga menyayangkan terdampaknya sektor pertanian. Sekitar 18.000 hektar lahan pertanian pun diperkirakan terbakar dalam seminggu terakhir. Peristiwa ini memperparah kondisi kelaparan di Bumi Syam tersebut.

Salah satu lembaga sosial Inggris melaporkan dampak serangan udara di Idlib selama sepekan terakhir. Menurut mereka, sekitar 1.500 jiwa terdampak serangan itu, yang mana setengahnya adalah warga sipil. Pada Senin (10/6), serangan udara menewaskan 25 orang yang mayoritas adalah warga sipil. PBB menyebutkan, 300.000 orang telah mengungsi menuju wilayah yang lebih aman di perbatasan Turki.


Selain makanan, para pengungsi juga kehilangan tempat tinggal. Hakem Darwish, salah seorang pengungsi menceritakannya kepada Al Jazeera. Darwish dan keluarganya sudah empat kali berpindah selama lima tahun terakhir. Mereka pergi dari Utara Idlib untuk menghindari konflik yang ada di daerahnya. Keluarganya menjadi salah satu penerima bantuan tempat tinggal.

“Saat ini kami sedikit bahagia dengan bantuan ini. Namun kami juga sedih karena di sini tidak ada toilet, tidak ada kamar mandi,” aku Darwish.

Konflik Suriah sejak delapan tahun silam menjadi faktor utama problem kemanusiaan berkepanjangan. Ribuan nyawa telah menjadi korban sejak konflik dimulai pada 2011, jutaan lainnya dipaksa meninggalkan rumah mereka, bahkan anak-anak kehilangan hak mereka untuk bermain dan pergi ke sekolah karena tidak ada tempat aman di negeri itu. []


Foto: Aljazeera, UN

Bagikan