Eskalasi Serangan Israel ke Gaza Jauh dari Kata "Akhir"

Serangan bertubi-tubi menggempur Gaza pada bulan Mei.

Eskalasi Serangan Israel ke Gaza Jauh dari Kata "Akhir"' photo

ACTNews, GAZA – Sebuah pesawat tempur milik Israel kembali menghantam Jalur Gaza, sebagaimana diberitakan Al Jazeera, Jumat (14/6). Tidak ada korban jiwa pada serangan kali ini. Ketegangan antara Israel dan Gaza disebut semakin meningkat sepanjang Mei.

Sebelumnya, pesawat tempur Israel menarget Jalur Gaza hari Ahad (5/5) di awal Mei. Lima orang Palestina dikabarkan meninggal dunia, para korban di antaranya adalah ibu hamil dan tiga bayi.

Reporter Al Jazeera Harry Fawcett, dari perbatasan Gaza dan Israel, melaporkan eskalasi “jauh dari kata akhir”. “Eskalasi kali ini berpotensi berbahaya dan dalam jangka panjang,” katanya.

Salah satu warga Gaza yang menjadi korban. Umm Alaa Abu Absa, mengungkapkan kepada Al Jazeera, salah satu bangunan miliknya hancur karena serangan itu. “Ada banyak pengeboman. Lingkungan pun berdampak banyak. Keadaan jalanan pun tidak dapat dideskripsikan. Orang-orang ketakutan dan berlarian. Setiap orang mencari anak-anak mereka, tidak ada satu pun yang dapat melihat satu sama lain,” cerita Umm Alaa.




Kantor berita Palestina menyatakan, pesawat tempur Israel meluncurkan hingga 150 kali serangan. Lebih dari 200 objek sipil, meliputi tempat tinggal, masjid, toko, dan kantor media turut menjadi sasaran. “Hingga 70 orang terluka pada serangan kali itu,” terang Kementerian Kesehatan Gaza.

Di samping itu, kondisi itu diperparah dengan menipisnya persediaan obat-obatan di Jalur Gaza, sebagaimana diperingatkan Kementerian Kesehatan Gaza. “Pasien di rumah sakit Gaza harus merasakan kondisi buruk yang belum pernah terjadi sebelumnya, mereka kekurangan obat-obatan akibat pengepungan Israel,” terang Kementerian Kesehatan Gaza kepada Middle East Monitor. Sekitar 25 persen kesediaan obat-obatan di Jalur Gaza telah habis.

Koordinator Perdamaian Timur Tengah PBB Nickolay Mladenov meminta semua pihak untuk meredam eskalasi. "Saya sangat prihatin dengan eskalasi dan hilangnya nyawa korban secara tragis. Pikiran dan doa saya tujukan kepada keluarga dan semua kerabat orang yang terbunuh, dan saya berharap pemulihan yang cepat bagi yang terluka,” kata Mladenov, dikutip dari Aljazeera, Senin (6/6).

Perang terakhir pada 2014 merusak lebih banyak infrastruktur Gaza. Hal itu menjadi landasan peringatan PBB bahwa jalur Gaza akan "tidak dapat dihuni" pada tahun 2020.[]


Sumber foto: Al Jazeera

Bagikan