Fasilitas Kesehatan di Sejumlah Daerah Masih Terbatas

Jumlah Puskesmas–yang menjadi tujuan utama berobat masyarakat prasejahtera–masih terbatas. Belum lagi, sarana dan prasarana di setiap puskesmas belum tentu merata.

pelayanan kesehatan gratis
Ilustrasi. Tim Humanity Medical Services ACT melakukan pelayanan kesehatan untuk masyarakat prasejahtera. (ACTNews)

ACTNews, JAKARTA – Layanan kesehatan menjadi sangat penting untuk masyarakat. Namun, fasilitas kesehatan masih terbatas di sejumlah wilayah di Indonesia, salah satunya pusat kesehatan masyarakat (puskesmas). Fasilitas kesehatan yang merupakan garda terdepan untuk menangani permasalahan kesehatan itu jumlahnya masih terbatas  dan keberadaannya tidak merata.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, jumlah puskesmas di Indonesia pada tahun 2019 adalah 10.134, dengan rasio 1:16.000. Berarti, dengan jumlah penduduk Indonesia sekitar 270,2 juta saat itu, maka idealnya Indonesia memiliki 16.875 puskesmas. Persebaran puskesmas juga sangat tidak merata. Beberapa daerah di Indonesia masih sulit mendapati puskesmas. Papua Barat misalnya, memiliki rasio puskesmas hanya 0,28 atau 5 kali lipat di bawah standar angka nasional dengan 1,40 pada saat itu.

Keterbatasan jumlah puskesmas tentu berdampak pada ketidaksejahteraan masyarakat dalam menikmati fasilitas kesehatan. Masyarakat prasejahtera tentu akan kesulitan dan sangat terpaksa berobat ke klinik swasta yang butuh biaya lebih mahal.

Permasalah puskesmas bukan hanya pada jumlah dan persebaran, tetapi juga sarana dan prasarana. Berdasarkan data Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (KPPN) bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BPPN), pada tahun 2019, masih banyak puskesmas yang keterbatasan  sarana dan prasarana. Padahal, hal ini sangat diperlukan oleh puskesmas untuk menunjang kelancaran pelayanan operasional setiap harinya.

Misal, sejumlah puskesmas masih kekurangan alat komunikasi. Berdasarkan data, diketahui ada sekitar 16 persen puskesmas yang tidak memiliki komunikasi dasar seperti telepon. Bahkan, dua persennya tidak memiliki listrik. Padahal, listrik merupakan sumber utama energi untuk menggerakan layanan, seperti untuk cold chain, autoklaf, atau mengoperasikan komputer yang digunakan untuk membuat sistem pencatatan dan pelaporan.


Bidan Zul saat bertugas melakukan pemeriksaan kesehatan dan pembagian tablet penambah darah kepada remaja di SMP Kampung Naga, Desa Mata Wae, Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat. (Dok. pribadi)

Pasokan ketersediaan air bersih yang sangat penting di fasilitas medis mana pun, nyatanya juga masih terbatas di sejumlah puskesmas. Sejumlah 24 persen puskesmas di Indonesia belum memiliki akses ke layanan air dan sanitasi. Sementara lebih dari dua pertiga puskesmas atau sekitar 72 persen tidak memiliki fasilitas cuci tangan dengan sabun di tiga ruangan, yaitu ruang konsultasi umum, ruang imunisasi, dan ruang bersalin.

Selain itu, ketidakcukupan obat dan vaksin juga masih ditemukan di tingkat puskesmas. Dengan ketiadaan obat, maka pihak puskesmas akan meminta pasien menebus obat di luar. Puskesmas akan memberikan resep obat kepada pasien, dan meminta pasien tersebut membeli obat di apotik atau toko obat dengan biaya dari kantong sendiri. Dengan kondisi tersebut, tentunya mengakibatkan tambahan beban pada pasien dari sisi waktu, biaya, dan tenaga.

Salah satu contoh, Aksi Cepat tanggap pernah mewawancarai langsung bidan di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Saat itu Zul Indarwansyah (29) menceritakan, di Kampung Naga, Desa Mata Wae, Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, ibu melahirkan pun sampai terpaksa melahirkan di dalam hutan karena butuh waktu cukup lama mencapai fasilitas kesehatan terdekat.


Dokter Arini memberikan hadiah ke siswa di salah satu SD di Kabupaten Asmat usai mensosialisasikan cara pola hidup bersih. (ACTNews)

“Ibu mengalami pendarahan karena plasenta belum keluar. Saya pasang infus, putus plasenta. Lalu bawa ke puskesdes untuk dirujuk ke puskesmas. Saat itu HB (hemoglobin) juga sudah amat rendah, denyut juga lemah. Namun, alhamdulillah, selamat,” cerita Zul mengingat peristiwa itu, saat dihubungi ACTNews akhir tahun lalu.

Selain bidan Zul, dokter Humanity Medical Services ACT Airini juga bercerita, di Asmat, seorang bapak memintanya untuk mengobati kuku jarinya yang terkelupas. “‘Bapak kenapa tidak ke puskesmas?’ beliau jawab, ‘buat apa saya ke puskesmas? Di puskesmas tidak ada dokter’,” kata dokter Arini berkisah kepada ACTNews, akhir tahun lalu. Menurut dokter Arini, dia bisa menangani dua sampai tiga keluhan dari seorang pasien di Distrik Sirets. Kabupaten Asmat, Papua. Dokter Arini berharap, Indonesia dapat berbenah di fasilitas kesehatan dan memberikan layanan kesehatan terbaik untuk masyarakatnya.[]