Gagal Panen, Petani Tolik Kebingungan Bayar Utang Tanam

Ahmad Tolik (43) hanya mengandalkan bertani sebagai sumber pendapatan. Namun, gagal panen sering tak terhindarkan, Tolik pun sulit menutupi modal tanam yang ia dapat dari berutang.

Ahmad Tolik (43) petani asal Sidoarjo. (ACTNews)

ACTNews, SIDOARJO – Lahan 1.700 meter persegi di Sidoarjo masih jadi sumber penghidupan bagi Ahmad Tolik (43). Dari meladang, ia mencukupi kebutuhan istri serta dua orang anaknya. Namun, untuk mencapai kesejahteraan dengan hasil lahan seluas itu, cukup sulit bagi Tolik.


“Petani padi seperti saya ini  bisa hidup dengan baik kalau punya lahan minimal sekitar dua hektar. Jika luas lahan lebih kecil, seperti yang saya garap ini, terpaksa harus menerima pendapatan yang relatif kecil. Belum lagi, nanti penghasilan dikurangi untuk bayar utang modal tanam,” cerita Tolik pada pertengahan Februari lalu kepada Tim Global Wakaf-ACT.


Bukan hanya luas lahan dan hasil panen, Tolik juga harus menghadapi risiko gagal panen. Tak jarang, baru genap dua bulan masa tanam, padinya sudah banyak yang rusak karena hama. 


“Jika dihitung, saya hanya mendapatkan keuntungan bersih Rp 25 ribu per hari dari lahan yang saya garap ini. Buat bayar utang modal awal, kalau berhasil, hasil panen kadang tidak cukup. Sekarang saya harus mengalami gagal panen,” keluh Tolik, petani yang bisa mendapat 11 karung gabah jika panennya berhasil.


Diakui Tolik, tidak ada jalan keluar kecuali tetap ikhlas dan  berikhtiar. Untuk mendorong usaha Tolik, Global Wakaf-ACT bersama Yayasan Penguatan Peran Pesantren Indonesia menstimulus bantuan modal usaha melalui program Wakaf Sawah Produktif. Ke depan, Tolik akan mendapatkan bantuan modal tanam, juga pendampingan pengelolaan lahan.


“Semoga, program bantuan modal dari YP3I dan Global Wakaf-ACT bisa memotong pinjaman-pinjaman keliling di desa ini. Saya berharap, program ini bisa menjangkau semua petani yang nasibnya sama seperti saya,” harap Tolik.


Wakaf Sawah Produktif saat ini menjadi hulu dari Gerakan Sedekah Pangan Nasional. Aksi ini bertujuan membentuk kedaulatan pangan negeri. Salah satunya, melalui pemberdayaan petani sebagai produsen pangan dan pengelolaan hasil pertanian untuk masyarakat yang membutuhkan.[]