Gaji Pas-Pasan, Guru Honorer Jadi Petani untuk Tambah Penghasilan

Gaji jauh dari layak, guru honorer di Prabumulih bekerja sampingan menjadi petani. Meski begitu, mereka enggan meninggalkan profesi guru karena memberikan kebahagiaan.

guru honorer prabumulih
Rido saat menerima bantuan paket pangan dari Global Zakat-ACT. (ACTNews)

ACTNews, PRABUMULIH – Sudah menjadi rahasia umum kalau guru honorer harus mencari penghasilan sampingan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Seperti para guru di Desa Payu Putat, Kecamatan Prabumulih Barat, Kota Prabumulih, harus menjadi petani demi menghidupi keluarga. 

Salah seorang guru honorer, Rido Buemansa mengatakan, gaji selama enam tahun menjadi guru honorer adalah Rp350 ribu per bulan. “Jadi (petani) tidak terikat, bisa kerja kapan saja. Sawahnya milik orang, kita bagi hasil 60 persen buat penggarap, 40 persen buat pemilik lahan,” kata Rido saat dikunjungi tim ACT Prabumulih, Kamis (25/11/2021).

Selain Rido, guru honorer lainnya, Atriana juga bekerja sampingan sebagai petani padi. Gaji Atriana sebagai guru Rp600 ribu per bulan. Gaji ini bersumber dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Pemkot Prabumulih. 

“Sejak pandemi gaji tidak menentu. Mungkin efek anggaran lagi difokuskan untuk menangani pandemi Covid-19. Jadi petani untuk cari tambahan atau menutup kebutuhan jika gaji telat,” ungkap perempuan yang telah mengajar selama 10 tahun itu.

Meski gaji kecil, Atriana mengaku akan tetap menjadi guru karena profesi ini memberinya kebahagiaan. Atriana hanya berharap, kesejahteraan guru honorer terus menjadi perhatian.[]