Gaza dari Kacamata Nadine: Hari-Hari yang Normal Itu Hilang

Apa pun yang ia lihat di Gaza kini tak lagi sama. Hari-hari normal yang ia lalui sebelumnya meluruh, berganti dengan setumpuk pertanyaan akan nasib pendidikan dirinya dan teman-teman seusianya kelak.

nadine
Nadine Abdullatief menatap nanar bangunan-bangunan yang hancur di Kota Gaza akibat serangan Israel pada 10-21 Mei 2021 lalu. (ACTNews)

ACTNews, GAZA - “Anda lihat semua reruntuhan ini? Menurut Anda, saya bisa apa? Memulihkan ini semua? Usia saya hanya 10 tahun. Saat saya lihat semua kerusakan ini, saya terus menangis setiap hari. Saya bertanya-tanya, apa salah kami sehingga kami mendapatkan perlakuan ini?”

Tegas dan lantang, suara Nadine Abdullatief bergema ke seluruh dunia lewat video pendek yang menyebar luas di media sosial dan media online global pada 15 Mei 2021 lalu, saat agresi Israel turut menyerang sekitar kediaman Nadine. Rangkaian pertanyaan retorik ia lontarkan. Bukan jawaban yang ia cari, namun pesan-pesan mendalam yang ia ingin sampaikan. Pesan dari seluruh anak Gaza yang langsung menyentuh nurani umat manusia. 

Memori mencekam agresi Israel yang berlangsung selama 11 hari (10-21 Mei 2021) terpatri kuat dalam benak anak perempuan berusia 10 tahun tersebut. Apa pun yang ia lihat kini tak lagi sama. Hari-hari normal yang ia lalui sebelumnya meluruh, berganti dengan setumpuk pertanyaan akan nasib pendidikan dirinya dan teman-teman seusianya kelak.

Nadine bercerita bahwa sebelum agresi, ia menjalani hidup yang normal seperti anak-anak pada umumnya. “Saya dan adik saya hobi menggambar dan bermain musik. Saya juga ingin menjadi vlogger,” cerita Nadine saat berkunjung ke kantor ACT Palestina, Kamis (10/6/2021). Ia dan adiknya memang kerap membuat video-video aktivitas sehari-hari yang menyenangkan, seperti video memasak dan video bermain.

Saat Zionis mulai membombardir sejumlah wilayah di Gaza, ketakutan memenuhi pikiran Nadine. Media sosial yang kerap ia pantau sehari-hari, terus melaporkan situasi terkini. Laporan bertambahnya jumlah fasilitas publik, gedung perkantoran, dan permukiman yang luluh lantak diiringi dengan laporan bertambahnya korban luka dan jiwa, termasuk anak-anak. Banyak anak yang harus melewati masa-masa teror dan membayangkan serangan besar itu juga bisa menimpa mereka kapan pun.

Hingga pada akhirnya ia melihat sendiri serangan tersebut meruntuhkan dua bangunan di dekat rumahnya. “Saya sangat ketakutan dan tidak bisa menenangkan diri. Serangan yang terjadi di hari ketiga itu bertepatan dengan hari ulang tahun saya, ditambah lagi pandemi Covid-19 masih berlangsung. (Di hari spesial itu) saya melihat banyak warga kehilangan anggota keluarga dan kerabat yang mereka sayangi. Saya memang masih anak-anak, tetapi bukan berarti saya tidak bisa memahami kesedihan mereka. Tentu saja saya merasakan duka mereka, hati saya hancur merasakannya,” ujar Nadine berat.

Kepada tim ACT Palestina, Nadine bercerita tentang mimpi besarnya untuk menjadi dokter dan membantu bangsanya. (ACTNews)

Nadine beranjak. Siang itu ia hendak berkeliling kota untuk merasakan hangatnya Kota Gaza di musim panas ini. Pandangannya menembus kaca jendela mobil yang ia tumpangi. Satu per satu bangunan yang hancur sebagian hingga runtuh total, melintas di hadapannya. Ia lantas memutuskan untuk berhenti dan berjalan santai menyusuri trotoar jalan di dekatnya.

Deretan bangunan memperlihatkan lubang dinding yang menganga lebar. Kabel sambungan dan besi kerangka bangunan mencuat keluar, mengarahkan gadis belia tersebut ke area yang dipenuhi tumpukan puing bangunan. Langkahnya terhenti, ia pandangi lekat-lekat area itu. Bisa ia bayangkan sebuah gedung pernah berdiri kokoh di sana, namun kini berganti reruntuhan yang teronggok dan menunggu dibersihkan.

“Sekarang setiap saya melintasi jalan-jalan di Gaza, yang saya lihat hanya rumah yang hancur, puing-puing bangunan, atau serpihan kaca jendela yang berserakan. Tidak ada lagi pemandangan berwarna di Gaza, seperti tanaman dan pepohonan yang indah. Kini semuanya tampak kelabu,” keluh Nadine.

Serangan  Israel di Gaza menghancurkan sekitar 2.200 rumah, meliputi 1.200 rumah hancur total dan 1.000 rumah lainnya hancur sebagian. Deputi Menteri Perumahan dan Tenaga Kerja di Gaza Naji Sarhan mengatakan, pembangunan kembali perumahan di Gaza pasca serangan Israel memerlukan sekitar  USD500 juta.

Mimpi yang tak ikut runtuh

Diakui Nadine, setelah agresi, ia dan kawan-kawannya tidak pernah merasa aman di mana pun, baik di dalam rumah maupun di luar rumah. Serangan selama belasan hari itu meninggalkan trauma di benak mereka. Selagi khawatir memikirkan keselamatannya, ia juga mencemaskan keberlanjutan pendidikannya saat ini.

Nadine belajar di salah satu sekolah di Gaza yang dikelola oleh PBB. Sekolahnya saat ini termasuk sekolah yang dijadikan lokasi pengungsian bagi warga Gaza yang kehilangan rumah mereka akibat bombardir Israel. Kondisi ini membuat proses belajar dan mengajar di sekolah tersebut ikut terhambat.

“Bagaimana saya bisa melanjutkan pendidikan saya jika banyak warga yang masih mengungsi di kelas saya? Mereka (mengungsi karena) tidak bisa merasa aman di rumah mereka, mereka bahkan tidak punya rumah lagi sekarang. Saya sangat sedih melihat kondisi mereka. Di waktu yang bersamaan, saya prihatin pada diri saya sendiri karena tidak bisa melanjutkan pendidikan saya,” lirihnya.

Menjadi dokter adalah salah satu mimpi besar Nadine. Ia memiliki keinginan kuat untuk membantu bangsanya. Dengan kondisi Gaza yang dapat diserang sewaktu-waktu, ia berharap bisa menolong banyak orang dengan memberikan pelayanan medis untuk mereka.

Dari sekian banyak mimpi besarnya, Nadine menceritakan satu mimpi yang sangat ingin ia wujudkan. “Saya juga bermimpi suatu saat bisa membebaskan Palestina (dari penjajahan). Saya yakin dengan kuasa Allah, semuanya bisa terjadi. Karena Allah bersama kami, Allah akan membebaskan Palestina,” ucapnya penuh keyakinan. []