Gaza Darurat Kebutuhan Obat-obatan

Krisis obat-obatan diumumkan Kementerian Kesehatan Gaza pada Selasa (16/7) lalu. Selain obat-obatan, perlengkapan medis, dan pasokan darah juga mulai menipis.

Gaza Darurat Kebutuhan Obat-obatan' photo

ACTNews, GAZA – Pasokan obat-obatan di sejumlah rumah sakit di Gaza semakin menipis. Hal ini membuat Gaza sekali lagi mengalami krisis kesehatan. Fakta itu disampaikan oleh juru bicara Kementerian Kesehatan Gaza Ashraf al-Qadra, Selasa (16/7).

“Rumah sakit menghadapi krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya karena kurangnya obat-obatan dan kebutuhan medis," terang Ashraf, sebagaimana ditulis Quds Press.

Ashraf mengatakan, dalam sebuah pernyataan pers Selasa malam, krisis medis yang dialami rumah sakit dan pusat kesehatan kali ini adalah yang paling memprihatinkan selama tahun-tahun pengepungan Israel di Jalur Gaza.

Kata Ashraf, kebutuhan tahunan Kementerian Kesehatan Gaza untuk obat-obatan dan barang-barang medis mencapai USD 40 juta. Sementara itu, dalam enam bulan pertama tahun ini baru tersedia USD 10 juta. Ia mengatakan, krisis itu berdampak pada pelayanan medis yang diperoleh pasien di sejumlah rumah sakit di Gaza. Ashraf pun meminta semua pihak melakukan langkah efektif untuk memenuhi kebutuhan farmakologis pasien.

Organisasi kemanusiaan Palestinian center for Human Rights (PCHR) mencatat, krisis akut obat-obatan dan peralatan medis kian memburuk. Kondisi ini bisa berakibat fatal bagi para pasien, mengingat 61,5% dari daftar obat-obatan yang paling dibutuhkan tak dapat disediakan.

Direktur Departemen Farmakologis Kementerian Kesehatan Dr. ‘Alaa Hellis mengatakan kepada PCHR, sedikitnya 1.000 pasien ginjal kronis dalam risiko besar, sebab kebutuhan terapi mereka tidak tersedia di sejumlah rumah sakit di Jalur Gaza. Dia menambahkan, obat-obatan yang paling dibutuhkan departemen oftalmologi, kesehatan mental, dan obat-obatan untuk anak-anak tidak tersedia di Jalur Gaza. Dia juga mengatakan, otoritas Palestina di Ramallah hanya memasok 10-15 persen obat-obatan di rumah sakit jalur Gaza. Jumlah itu tidak seberapa jika dibandingkan kebutuhan obat-obatan di Jalur Gaza yang mencapai 40 persen.

Andi Noor Faradiba dari tim Global Humanity Response (GHR - ACT) melaporkan, pasokan obat-obatan sedang menipis di Gaza, termasuk pasokan dari Israel yang dibatasi. “Ada juga kebutuhan besar di bank darah, apalagi setiap Jumat selalu ada korban luka yang butuh supali darah, terang Faradiba, Kamis (18/7).

Selain tidak lagi mendapatkan obat-obatan, pasien di Gaza juga dibatasi terkait proses pengobatan mereka oleh otoritas Israel. Israel melakukan blokade di Jalur Gaza selama 13 tahun. Semua jalur yang menghubungkan Gaza dengan dunia luar ditutup melalui Mesir atau wilayah Palestina yang diokupasi sejak 1948. Akibat blokade itu, sektor kesehatan di Jalur Gaza melemah. Krisis melanda hampir di semua sektor, termasuk bahan bakar dan listrik.[]

Sumber foto: Quds Press, ACT

Bagikan