Gaza yang Bertahan di Tengah Keterbatasan

Tidak ada air, tidak ada listrik, tidak ada pekerjaan, tidak memungkinan untuk tempat tinggal adalah fakta yang terjadi di Gaza saat ini. Tahun 2020, PBB menyebut Gaza tidak layak untuk ditinggali, lantas bagaimana cara masyarakat Gaza bertahan hidup?

Gaza yang Bertahan di Tengah Keterbatasan' photo

ACTNews, GAZA – Sebagian akuifer di pesisir Gaza tidak lagi berfungsi dengan baik. Konflik merusak lapisan tanah yang terdapat kandungan air itu. Sebagian besar air di Gaza pun terkontaminasi limbah dan air laut sehingga terasa asin.

“Yang kita punya adalah air asin, air laut yang bahkan tidak memungkinkan kita mencuci muka dengan air tersebut,” ungkap Mahdy Ibrahim, salah satu warga Gaza kepada TRT World, akhir tahun lalu.

Gaza, tanah seluas 8 kilometer dengan panjang 45 kilometer itu, ditinggali sekitar dua juta jiwa. Mereka hidup dengan keterbatasan semenjak blokade dilakukan sejumlah pihak. Selain air, kelangkaan bahan pangan, bahan bakar, dan listrik juga terjadi di Gaza.

PBB memprediksi Gaza tidak layak ditinggali pada 2020. Pernyataan itu dilandasi data 97 persen sumber air di Gaza tidak layak minum. Terputusnya listrik dan kerusakan karena perang menyebabkan manajemen limbah tidak lagi bisa dilakukan dengan baik, sebab itu air kotor yang tercemar limbah juga mengalir ke laut. Sampah-sampah plastik pun menghantui Gaza. Plastik tertahan di lautan, salah satu sumber pangan  yang diandalkan dan satu-satunya tempat nelayan Gaza mencari ikan.

Selain tidak memiliki sumber pangan yang menjanjikan, warga Gaza juga kehilangan pekerjaan. Sebagaimana dilaporkan National Geographic, sejumlah remaja bahkan tidak lagi berada di sekolah, melainkan di tempat pembuangan akhir di salah satu kota Gaza bagian tenggara.

Berkurangnya mata pencaharian membuat sejumlah warga Gaza mencari pekerjaan alternatif. Sebagian warga mencari dan mengepul plastik untuk didaur ulang. Menurut laporan National Geographic, pendaur ulang plastik di Gaza menjadi pionir dalam mempertahankan ekonomi untuk mencegah keruntuhan ekonomi, kemanusiaan, dan lingkungan. Dalam beberapa tahun terakhir, budaya dan ekonomi di Gaza lahir dari mendaur ulang plastik. Melalui pengumpulan, pembersihan, penyortiran, dan pengerjaan ulang, orang telah menciptakan peluang bisnis yang sangat dibutuhkan di Gaza.

"Orang-orang menggunakan kembali segalanya karena mereka tidak punya apa-apa," kata Ahmed Hilles, Direktur Institut Nasional untuk Lingkungan dan Pembangunan di Kota Gaza, dilansir dari National Geographic. Menurut Ahmed, pengepungan oleh Israel dan penutupan perbatasan mengharuskan sistem daur ulang di Gaza harus lebih baik. []

Bagikan