Gempa Mamasa, ACT Pasok Logistik untuk Pengungsi

Gempa Mamasa, ACT Pasok Logistik untuk Pengungsi

ACTNews, MAMASA - Dalam sepekan terakhir, Kabupaten Mamasa di Provinsi Sulawesi Barat diguncang gempa. Kekuatan gempa bervariasi, mulai dari magnitudo 2,3 hingga di atas 5. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terakhir mencatat gempa 5,1 SR dengan kedalaman 10 kilometer terjadi di Mamasa pada Kamis (8/11), tepatnya pukul 21.40 WITA. Gempa ini membuat ribuan orang panik dan memilih mengungsi, terlebih beredar kabar bohong akan terjadinya gempa susulan di atas 8 SR.

Walau tidak berpotensi tsunami, gempa yang dirasakan warga cukup besar. BMKG dalam rilisnya menyebutkan, gempa di Mamasa telah terjadi 3 kali dengan guncangan di atas 5 SR. Pertama terjadi pada Selasa (6/11) pukul 01:30 WIB dengan magnitudo 5,5. Kemudian gempa susulan terjadi satu hari berselang kekuatan 5,2, disusul dengan gempa 5,1 SR pada Kamis (8/11). Dari data Badan Penggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mamasa, gempa menyebabkan 13 bangunan rusak.

Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersama Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Sulawesi Selatan lantas mengirimkan bantuan ke lokasi pengungsian. Ahad (11/11), tim bergerak menuju wilayah Sumarorong. Di Kelurahan Sumarorong, Kecamatan Sumarorong, Mamasa ini tercatat 491 orang mengungsi akibat trauma atas gempa yang berulang-ulang 

Logistik barang seperti makanan, air mineral, tenda, popok bayi, dan pembalut diberikan kepada pengungsi. “Kami juga memberikan pelayanan kesehatan,” kata relawan MRI Sulsel Mustadiarto, Rabu (14/11).

 

Penyebab gempa Mamasa

Sejak Selasa (13/11), BMKG mencatat 17 kali gempa bergetar di Mamasa. Gempa yang melanda Kabupaten Mamasa disebabkan oleh pergerakan Sesar Saddang, yang bergeser datar. Sesar ini membentang dari pesisir Mamuju, Sulbar, hingga ke Bulukumba, Sulsel, dengan panjang patahan 60-70 kilometer. Kedalamannya pun hanya berada di titik 20 hingga 30 kilometer. Getaran yang dirasakan warga Mamasa menandakan sesar ini aktif dan masyarakat perlu waspada. 

Petahan Saddang merupakan salah satu patahan aktif yang mengelilingi Sulawesi yang sudah lama tak menunjukkan pergerakannya. Menurut beberapa pakar kegempaan, aktivitas Sesar Saddang diduga akibat adanya tekanan dari Sesar Palu-Koro. Akhir September kemarin, aktifnya Sesar Palu-Koro mengakibatkan gempa 7,4 SR hingga memicu tsunami di teluk Palu.

 

Terkait kabar yang beredar tentang gempa susulan mencapai 8 SR, Ketua Pusat Studi Kebencanaan Universitas Hasanuddin Adi Maulana dikutip dari Harian Kompas mengatakan perkiraan gempa tak akan lebih dari Palu. Energi yang tersimpan di patahan saddang akan terus berkurang mengingat telah terjadi pelepasan besar di Palu. []

Tag

Belum ada tag sama sekali