Gempa Mamuju dan Sejarah Gempa di Pesisir Sulawesi Barat

Hingga 2022, wilayah Mamuju dan pesisir Sulawesi Barat memiliki sejarah gempa yang bersifat merusak hingga menyebabkan tsunami.

gedung ambruk akibat gempa di mamuju
Warga tengah melintas di depan Kantor Gubernur Sulbar yang ambruk akibat gempa M6,2 tahun 2021 lalu. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, MAMUJU – Gempa bermagnitudo 5,8 mengguncang Mamuju, Rabu (8/6/2022) siang. Pusat gempa berada di laut 43 km barat daya Mamuju dengan kedalaman 10 kilometer. Bencana alam ini dinyatakan tak memicu tsunami, tetapi membuat warga panik, berhaburan ke luar ruangan hingga mengungsi ke tempat tinggi. 

Koordinator Bidang Mitigasi Gempa bumi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan, gempa tersebut merupakan jenis gempa dangkal akibat adanya aktivitas sesar aktif di lepas pantai Mamuju. Gempa juga dirasakan di Majene, Pinrang, Palopo, Palu, Sidrap, Pangkep, Makassar dan Masamba. Juga dirasakan jauh hingga Paser dan Samarinda di Kalimantan. Akibat gempa ini 1 orang luka berat, 8 luka ringan, serta ribuan orang mengungsi. 

"Gempa destruktif (merusak) magnitudo 5,8 yang mengguncang Mamuju tadi siang bersumber dari sesar geser (strike-slip) yang belum terpetakan. Wilayah pesisir Sulawesi Barat menjadi salah satu kawasan yang paling aktif aktivitas gempa destruktif di Sulawesi," kata Daryono di akun Twitter pribadinya @DaryonoBMKG, Rabu (8/6/2022) petang.

Selanjutnya, Daryono menjelaskan, gempa Mamuju tersebut cenderung gempa tipe 2, dengan ciri terjadi gempa pembuka (foreshocks), gempa utama (mainshocks), serta gempa susulan (aftershocks). Gempa pembuka terjadi kemarin, Selasa (7/6/2022) pukul 16.21.41 WITA dengan magnitudo 2,8.

"Hingga Rabu (8/6/2022) petang terjadi 2 kali gempa susulan di Mamuju yakni magnitudo 2,7 pukul 14:18:16 WITA dan magnitudo 2,9 pukul 16:50:12 WITA. Gempa Mamuju ini memiliki karakteristik ‘lack of aftershocks’ atau miskin gempa susulan, semoga fenomena ini menjadi pertanda baik," ungkap Daryono.

Sejarah gempa di pesisir Sulawesi Barat

Mamuju dan daerah lain di pesisir Sulbar beberapa kali diguncang gempa, salah satu yang cukup besar terjadi pada 2021 lalu. Gempa ini didahului gempa pembuka M5,9 pada 14 Januari 2021, pukul 14:35:49 (WITA). Selanjutnya disusul gempa utama M6,2 pada 15 Januari 2021 pukul 02.28 WITA dan serangkaian gempa susulan.

Analisis Daryono, gempa bumi 14 Januari 2021 tersebut dipicu oleh Sesar Naik Mamuju (Mamuju Thrust). Sesar ini dilepas pantai sebagai fold thrust belt yang sangat aktif. Sumber gempa ini pun dekat dengan sumber gempa yang memicu tsunami pada 23 Februari 1969. Saat itu, gempa berkekuatan 6,9 SR dengan kedalaman 13 kilometer. Bencana ini menyebabkan 64 jiwa dinyatakan wafat, 97 orang luka-luka dan lebih dari 12 ribu rumah dilaporkan rusak, dermaga pelabuhan pun pecah dampak tsunami setinggi 4 meter di Pelattoang, dan 1,5 meter di Parasanga dan Palili. 

Tak hanya itu, gempa merusak hingga menimbulkan tsunami di pesisir Sulbar pun tercatat beberapa kali. Di antaranya pada 23 Desember 1915 (magnitudo tidak diketahui), 11 April 1967 mengakibatkan tsunami, 23 Februari 1969 mengakibatkan tsunami, 6 September 1972 mengakibatkan tsunami, 8 Januari 1984, serta 7 November 2020. Kekuatan gempa tersebut tercatat berada di atas magnitudo 5.


Khawatir gempa susulan, warga mengungsi ke Stadion Manakara Mamuju, Rabu (8/6/2022). (ACTNews)

Kondisi geologi dan tektonik Sulbar

Dalam Ulasan Guncangan Tanah Akibat Gempa Mamuju Sulbar 15 Januari 2021, Bidang Seismolog Teknik BMKG menjelaskan, Pulau Sulawesi terbentuk dari proses tektonik yang rumit.  Peneliti Hall dan Wilson (2000) menggunakan istilah suture untuk menggambarkan kerumitan tektonik yang terjadi di Indonesia, termasuk di Sulawesi.

"Menurut Hall dan Wilson, suture Sulawesi terbentuk akibat proses tumbukan antara kontinen dan kontinen (Paparan Sunda dan Australia) yang merupakan daerah akresi yang sangat kompleks, tersusun oleh fragmen ofiolit, busur kepulauan dan kontinen," kutip Seismolog BMKG dalam ulasan tersebut.  

Pembentukan suture Sulawesi diperkirakan terjadi pada Kala Oligosen Akhir dan berlanjut hingga Miosen Awal. Hingga saat ini, diperkirakan deformasi tersebut masih berlangsung.

Secara geologi, daerah Mamuju disusun oleh batuan gunung api Adang, batuan gunung api Talaya, batu gamping Formasi Mamuju, batu gamping Anggota Tapalang Formasi Mamuju, dan endapan aluvium. Aktivitas gunung api purba mengontrol pembentukan morfologi berupa perbukitan. 

Ini terlihat dari adanya beberapa pusat erupsi gunung api di Mamuju, terutama di daerah yang didominasi oleh batuan nephrite, tephriphonolite, phonotephrite, dan phonolite. Batuan-batuan tersebut berkomposisi ultrapotasik yang terbentuk pada tatanan tektonik benua aktif dengan kerak benua mikro blok Sulawesi.[]