Gempa Rusak Rumah Guru dan Sekolah di Pandeglang

Gempa di laut Banten turut merusak rumah Dedi Mulyad–seorang guru honorer yang juga penerima bantuan Sahabat Guru Indonesia–di Desa Pasirlancar, Kecamatan Sindangresmi, Kabupaten Pandeglang. Dedi terancam tidak bisa memperbaiki rumah karena penghasilan sebagai guru honorer sangat sedikit.

rumah dedi rusak
Dedi menunjukkan rumahnya, Sabtu (15/1/2022). (ACTNews)

ACTNews, PANDEGLANG – Gempa bermagnitudo 6,6 yang mengguncang wilayah Banten merusak rumah guru honorer SDN Pasirlancar 2, Dedi Mulyadi.  Rumah Dedi di Desa Pasirlancar, Kecamatan Sindangresmi, Kabupaten Pandeglang retak di beberapa titik. Semantara sebagian besar atap rumah jatuh.

“Kalau malam saya jadi takut. Kalau ada gempa susulan, bisa ambruk rumah. Saya mau mengungsi ke rumah tetangga juga enggak enak,” kata Dedi saat diwawancarai ACTNews, Senin (17/1/2022). 

Dua hari setelah gempa, walau aktivitas mengajarnya sudah kembali normal, ia harus menurunkan genting rusak. “Banyak genting pecah masih nyangkut di atas. Kalau enggak diturunin, ada angin atau gempa susulan bisa jatuh dan membahayakan,” ujarnya.

Dedi mengaku, belum akan merenovasi rumahnya. Penghasilan sebagai guru dan petani karet tidak cukup untuk memperbaiki rumah secara menyeluruh. Ia hanya akan mengganti genting yang rusak dengan asbes. 

“Inginnya renovasi total, tapi belum ada biaya. Sekarang yang penting aman dulu buat tidur,” jelasnya. 


Kondisi SDN 2 Pasirlancar tempat Dedi Mulyadi mengajar sebelum gempa. (ACTNews)

Tak hanya rumah, kondisi bangunan sekolah tempat Dedi mengajar juga rusak. Ia khawatir kalau bangunan sekolah tiba-tiba ambruk. Ketakutan itu semakin menjadi saat gempa susulan masih terjadi hingga Senin pagi.

Sukma Jayalaksana dari tim ACT regional Banten menuturkan, sebelum terjadinya gempa kondisi bangunan SDN Pasirlancar 2 sudah memprihatinkan. “Temboknya retak dan lantai keramiknya mengelupas. Setelah gempa, retakan di tembok semakin besar,” ujar Sukma, Senin (17/1/202).[]