Gerakan Nasional Indonesia Dermawan, Solusi Pengentasan Kemiskinan

Kemiskinan masih jadi simpul setiap permasalahan yang terjadi di Indonesia. Keterlibatan semua individu dapat menjadi solusinya, salah satunya dengan Gerakan Nasional #Indonesia Dermawan.

Gerakan Nasional Indonesia Dermawan, Solusi Pengentasan Kemiskinan' photo

ACTNews, JAKARTA Per Maret 2019 lalu, Badan Pusat Statistik mengeluarkan publikasi terbarunya tentang tingkat kemiskinan di Indonesia. Data yang diperbarui per satu semester itu menempatkan delapan provinsi yang mengalami kenaikan jumlah jiwa yang masuk golongan miskin. Delapan provinsi itu ialah Kepulauan Riau, Nusa Tenggara Barat dan Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara dan Tenggara, Maluku Utara, serta Papua.

Secara umum, tingkat kemiskinan di Indonesia, berdasarkan data BPS, mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu. Walau begitu, pengentasan kemiskinan harus terus dilakukan dari waktu ke waktu agar masyarakat dapat secara keseluruhan bangkit dari jeratan kemiskinan. Alasannya, efek yang ditimbulkan dari kemiskinan ini sangatlah buruk.

Rizali Ritonga dalam opininya di harian Kompas, Selasa (16/7), mengatakan, perhatian terus diberikan pada kemiskinan di Indonesia. Hal ini karena efek yang timbul tak hanya dirasakan orang dewasa saja yang lebih siap menghadapi kemiskinan, tapi juga anak-anak.

Di lapangan, masih mudah ditemukan masyarakat dengan perekonomian lemah terkendala dalam menjalani kehidupan. Keluarga Djohari misalnya. Laki-laki usia 61 tahun ini kini kondisinya hanya dapat terbaring lemah di rumah yang disewanya tak jauh dari Stasiun Bojong Gede, Kabupaten Bogor, akibat strok. Lima tahun sudah ia strok dan tak dapat beraktivitas sama sekali.

Anak Djohari pun tak dapat berbuat banyak. Pasalnya, Chairudin, anak pertama Djohari, tak lagi bekerja setelah dinyatakan mengalami tuberkulosis. Pun dengan anak perempuan terakhir Djohari, Patonah, yang mengalami sakit pada kulit. Patonah juga harus mengurus anaknya, Annisa Fitria (5), yang kini lumpuh akibat TB tulang sejak satu setengah tahun lalu.

Djohari dan keluarganya sampai kini pun masih kurang mendapatkan penanganan medis. Keterbatasan ekonomi menjadi alasan. Anak Djohari yang lain hanya bekerja sebagai pemulung serta pengamen dengan penghasilan yang tak menentu. Akibatnya, hingga kini mereka harus bertahan di rumah kontrakan mereka dengan kondisi kesehatan yang kurang baik.


Penguatan semangat untuk mengentaskan kemiskinan harus lebih sering digaungkan. Pernyataan ini disampaikan oleh Presiden Aksi Cepat Tanggap (ACT) Ibnu Khajar pada Selasa (10/9). Ia mengatakan, butuh kekompakan dari setiap individu untuk mengangkat Indonesia dari kemelut kemiskinan. “ACT menginisiasi Gerakan Indonesia Dermawan sebagai langkah untuk pengentasan kemiskinan,” ungkapnya.

Pekan lalu, bertempat di Menara 165 Cilandak, Jakarta Selatan, ACT meluncurkan Gerakan #Indonesia Dermawan. Gerakan ini muncul sebagai salah satu cara ACT mengajak seluruh masyarakat untuk peduli terhadap sesama. Bukan hanya di Indonesia, tapi juga isu-isu kemiskinan, kebencanaan, serta kemanusiaan di ranah global yang lebih luas.

Presiden Global Islamic Philanthropy (GIP) Ahyudin menyebut, kedermawanan kian menyatu pada jadti diri masyarakat Indonesia. Paling tidak itulah yang ACT rasakan dalam empat belas tahun berdiri. Momentum ketika terjadi bencana yang paling menggerakan masyarakat untuk dermawan. “Dengan Gerakan Indonesia Dermawan ini, diharapkan semangat dermawan serta gotong-royong masyarakat dapat muncul tanpa menunggu momentum,” ungkapnya. []

Bagikan