Getir Keluarga di Gaza, Gantungkan Hidup dari “Makanan Sampah”

Keluarga Zeyad dan Manal Oda hidup serba kekurangan di tempat pembuangan sampah di daerah Khan Younis. Mereka terpaksa memanfaatkan bahan makanan yang mereka temukan di tempat sampah untuk bertahan hidup.

krisis kemanusiaan palestina
Keluarga Manal Oda memanfaatkan bahan makanan yang ditemukan di tempat sampah untuk dimakan. (ACTNews)

ACTNews, GAZA – Terik matahari Gaza tak menghentikan langkah Zeyad. Mengenakan alas kaki tipis, Zeyad berjalan lirih menyusuri tumpukan sampah di salah satu tempat pembuangan akhir (TPA) di Khan Younis, Gaza Selatan. Ia membopong sebuah kardus bekas, kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan mengamati tumpukkan sampah. Ia mencari sisa buah atau sayur yang kiranya masih bisa dikonsumsi.

Kentang, bawang, hingga tomat, biasa Zeyad kumpulkan. Bahan makanan bekas yang bagi beberapa orang adalah sampah, menjadi harta berharga bagi Zeyad. Ia akan menaruhnya di kardus, dan membawanya pulang ke rumah yang juga berada di kawasan TPA.

Zeyad kemudian meminta bantuan istrinya, Manal Mohammad Joma'an Oda, untuk mengolah bahan makanan yang ia temukan, menjadi santapan yang akan dimakan keluarganya. Begitu lah hari-hari dari pasangan suami istri Zeyad dan Oda.

Perekonomian Gaza yang hancur, membuat mereka sulit mendapat pekerjaan. Imbasnya, mereka tidak memiliki penghasilan dan sulit untuk membeli makanan yang layak. "Saya tinggal di penampungan sampah. Saya benar-benar hidup di bawah sampah," ujar Oda ketika ditemui tim ACT Palestina di rumahnya.

Tinggal di area pembuangan sampah membuat banyak penderitaan menyertai kehidupan keluarga Zeyad dan Oda. Ketika musim panas tiba, banyak serangga, bahkan hewan-hewan berbisa seperti ular dan kalajengking juga acap kali memasuki rumah.

"Sementara saat musim dingin, area di sekitar sini akan menjadi basah. Air dari genangan sampah akan masuk ke rumah kami. Sampai kami tidak dapat menemukan tempat untuk tidur," ujar Oda sambil mengelap air matanya yang jatuh menggunakan jilbab panjangnya.

Cobaan keluarga Oda pun bertambah karena Zeyad menderita diabetes dan pendarahan retina. Oda harus mengeluarkan anggaran lebih untuk membeli insulin. Zeyad harus secara berkala mendapat suntikan insulin untuk mencegah diabetesnya semakin parah.

"Dua anak saya saat ini masih berada di usia muda. Saya tidak ingin apa-apa. Tapi hanya kesejahteraan anak-anak saya. Ayah mereka dan saya sakit. Siapa yang akan merawat mereka," ucap Oda.

Berikhtiar membantu keluarga Zeyad dan Oda, tim ACT Palestina menjadikan keluarga mereka sebagai salah satu penerima bantuan program Sister Family Palestine Indonesia. Lewat bantuan ini, keluarga Oda akan mendapat bantuan reguler berupa bahan pangan dan air bersih.

"Insyaallah dengan ikhtiar terbaik dermawan, ACT juga berharap dapat menawarkan bantuan wakaf modal usaha agar mereka dapat keluar dari kejamnya lingkaran kemiskinan," harap Said Mukaffiy dari tim Global Humanity Response ACT, pada Sabtu (2/10/2021).[]