Getir Perjuangan Keluarga Yeyet dan Arifin Demi Keluarga

Perjuangan keluarga Yeyet dan Arifin, keluarga di Cirebon, memenuhi kebutuhan hidup tidaklah mudah. Kini, mereka berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

ekonomi yeyet
Yeyet tengah menyuapi Elis, anak ketiganya yang mengalami lumpuh layu. (ACTNews/M. Ubaidillah)

ACTNews, CIREBON – Suasana Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, 09.00 WIB cerah, Selasa (12/10/2021). Cuaca yang bagus dimanfaatkan Yeyet untuk segera mencuci baju yang sudah menumpuk di emperan rumah. Saking banyaknya, Yeyet harus membagi pakaian kotor ke dalam beberapa tumpukan. 

“Dibagi biar muat di ember. Sudah seminggu enggak nyuci, jadi numpuk,” kata Yeyet sembari membagi-bagi baju ke dalam beberapa tumpukan. 

Aktivitas tersebut yeyet lakukan di depan rumahnya yang berada di pojok jalan dan Sungai Lemahwungkuk. Suara bising kendaraan, terik matahari, dan merdunya kicau burung di dalam sangkar menemani aktivitas Yeyet. 

Lima meter di samping Yeyet, Elis, anak ketiga Yeyet di kursi roda. Ditemani anak pertama Yeyet yang tangannya cekatan memasukkan oncom ke dalam singkong parut. “Kalau buat (kue) di dalam, rumahnya enggak muat. Sumpek,” kata Yeyet.

Di rumah berukuran 6x6 tersebut Yeyet, Arifin-suami Yeyet, empat anak, satu cucu, dan menantunya tinggal. Di dalamnya hanya ada satu kamar ukuran 3x3, toilet, dan alat-alat dapur yang diletakkan di depan meja TV. Saat diguyur hujan, atap rumah juga bocor. Langit-langit rumah yang terbuat dari geribik juga banyak yang ambrol.

Meski di luar rumah matahari terik, di dalam rumah amat gelap. Rumah Yeyet dan Arifin hanya memiliki satu jendela yang terletak di samping pintu utama. Sinar matahari juga tak bisa masuk karena kaca jendela tertutup lemari. Di dalam rumah tersebut Arifin memasak kue-kue yang akan dijual Yeyet.


Yeyet sedang berjualan. (ACTNews/M. Ubaidillah)

Menurut Arifin, rumahnya tidak memiliki surat-surat. Sehingga sulit untuk mendapat bantuan dari pemerintah. Ia hanya bisa pasrah dan berharap mendapat rezeki untuk renovasi rumahnya. 

“Sekeluarga tidur dan mandi setiap hari di dalam (rumah) ini. Pagi saya yang bantu buat dan goreng kue, sedangkan istri urus anak saya yang nomor tiga, yang sakit. Sebaliknya nanti siang istri saya jualan, saya yang urus anak,” cerita Arifin kepada ACTNews saat sedang menggoreng tahu. 

Yeyet menceritakan, saat ini sumber pemasukan keluarganya hanya dari hasil jualan. Sehari, jika dagangan habis, Yeyet mendapat untung bersih Rp200 ribu. Jika sedang sepi pembeli, sekadar mendapat Rp50 ribu pun sulit.

“Kalau enggak habis, dagangan dibagikan ke tukang becak, juru parkir, pemulung, atau pengemis yang duduk di pinggir jalan. Karena kan besok basi, daripada dibuang,” jelas Yeyet. 

Selain memproduksi sendiri, Yeyet juga menjual kue yang dibuat orang lain dengan keuntungan Rp500 rupiah per kuenya. “Sebelum bisa buat sendiri, pernah dagangan yang ambil di orang enggak pernah laku. Saya dimarahi ‘Enggak usah ambil kue lagi,” kata Yeyet menirukan perkataan pemilik kue. 


Rumah Yeyet tampak depan. (ACTNews/M. Ubaidillah)

Yeyet melanjutkan, pernah saat tidak punya uang, Arifin melakukan tindak pidana pencurian. Ini membuat sang suami mendekam di penjara sebanyak dua kali.  

“Bingung enggak punya duit, makan dari mana, berobat dari mana. Biar anak-anak bisa makan, Bapak bingung, akhirnya melakukan ini, maaf ya,” kata Yeyet menirukan perkataan Arifin dahulu. 

Yeyet menegaskan,ia an Arifin tidak ingin berbuat seperti itu. Kini, semua pekerjaan halal ia lakukan, mulai dari berjualan kue, burung, menjadi pengemudi ngojek, atau buruh cuci. 

Selain itu, Yeyet berharap agar usahanya terus berkembang dan bisa kembali mengobati anaknya yang lumpuh. Meski sebenarnya Yeyet juga memiliki penyakit di lehernya, namun baginya yang terpenting adalah anaknya sehat.[]