Gigih Ikhtiar Girah demi Sang Bungsu

Selain mesti menjaga dagangan, Girah (60) juga harus memberikan perhatian ekstra kepada si bungsu Satrio (11) yang merupakan anak berkebutuhan khusus. Girah yang merupakan ibu tunggal yang kini menjadi tulang punggung untuk segala kebutuhan Satrio.

Sumber penghasilan Girah saat ini yakni sebuah warung nasi uduk yang berdiri di depan rumahnya di Kelurahan Sawah Lama, Kecamatan Ciputat Timur, Tangerang Selatan. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, TANGERANG SELATAN – Satrio (11) membawa pelepah pisang dan merengek minta pisau kepada ibunya untuk memotong-motong pelepah itu. Awalnya Girah (60),  ibu dari Satrio tak memberikannya. Setelah Satrio merengek sampai berteriak, terpaksa Girah memberikannya seraya menyuruhnya berhati-hati. Barulah Satrio tenang, fokus dengan pelepah pisang yang jadi mainannya.

“Dia kayak begitu, kalau enggak dikasih pasti nangis, ngamuk,” Girah menjelaskan kondisi anak bungsunya. Satrio memang memiliki kebutuhan khusus. Karena itu perlu tenaga ekstra bagi Girah untuk mengawasinya.

Suami Girah berpulang lima tahun lalu. Jadilah ia sendiri yang bertanggung jawab atas Satrio. Abang dan kakak Satrio yang kini telah berkeluarga juga terkadang membantu Girah. Walaupun begitu, Girah merasa harus berusaha sendiri karena kebutuhan keluarga anak-anaknya sendiri menurutnya cukup banyak.

Sebuah warung nasi uduk berdiri di depan rumahnya di Kelurahan Sawah Lama, Kecamatan Ciputat Timur, Tangerang Selatan sebagai sumber penghidupannya dan Satrio. Belakangan warungnya juga mengandalkan kue kering dan minuman instan sebab nasi uduk mulai sepi saat pandemi.


Selain berdagang, fokus Girah saat ini adalah merawat Satrio yang berkebutuhan khusus. (ACTNews/Reza Mardhani)

“Kadang aja modal enggak bisa balik, sepi. Kalau nasi jelas enggak balik modal, ini dari pagi saja modal dua liter beras baru dapat Rp 15 ribu. Buat beli berasnya aja kurang,” kata Girah pada Jumat (19/3/2021) ini.

Biasanya Girah berkeliling kampung menggunakan kantong-kantong besar membawa kue-kue kering buatannya. Tak lupa, ia mengajak Satrio. Menurut Girah, hasil jualan berkeliling bisa lebih pasti ketimbang berjualan seperti saat ini, terutama di bulan Ramadan nanti.

Di tengah perjuangan itu Girah juga masih terkendala modal. Ia sempat berutang kepada rentenir. “Utang Rp 1 juta, dikasihnya Rp 900 ribu, bayarnya Rp 50 ribu selama 24 hari. Makanya terasa berat, karena pagi-pagi harus dapat uang segitu. Masih ada sisa Rp 200 ribu lagi,” terkadang ia berterus terang kepada penagih ketika tak ada uang agar dapat dilunasi esok hari.

Berharap Panjang Umur  Demi Satrio

Satrio juga sempat divonis jantung bocor ketika baru lahir. Berkat bantuan para donatur saat itu, operasi berjalan lancar. Namun, baru satu tahun berobat, Satrio tak lagi kontrol ke rumah sakit sebab masalah biaya. Sampai sekarang, Satrio juga masih mengeluh sakit di dada. “Kemarin ngeluh dia, ‘Mak, sakit, capek,’ mungkin sesak napasnya. Saya suruh istirahat, terus bawa puskesmas yang enggak bayar, karena ada BPJS,” cerita Girah.

Sempat juga Satrio mengenyam bangku Sekolah Luar Biasa berkat donatur. Lagi-lagi, karena alasan biaya, sekolah Satrio harus berhenti. Kini, Girah hanya mencurahkan hidupnya untuk si bungsu. Ia berharap dapat merawat Satrio sampai ia besar nanti. “Kalau bisa minta ditambahkan umurnya, biar sampai dia nanti dewasa,” harap Girah di tengah tangis.

Hakim dari Tim Global Wakaf-ACT menerangkan, Global Wakaf-ACT melalui Wakaf Modal Usaha Produktif berikhtiar membantu usaha Girah. Bantuan Gerobak Wakaf diharapkan dapat membantu usaha Girah agar lebih berkembang.

“Selain usaha, kami juga butuh dukungan dermawan untuk kebutuhan hidup ibu Girah dan anak bungsunya. Bersama, mari kita ringankan beban saudara,” kata Hakim.[]