Gizi Buruk Berkepanjangan Sebabkan Raudatul Stunting

Gizi Buruk Berkepanjangan Sebabkan Raudatul Stunting

ACTNews, LOMBOK TIMUR - Kasus gizi buruk kembali terdengar dari Bumi Lombok, wilayah yang baru pulih dari bencana gempa bumi pada pertengahan 2018 silam. Ialah Raudatul Jannah (9), anak perempuan asal Desa Bebidas, Kecamatan Wanasaba, Lombok Timur, yang tergolek lemas akibat kondisi stunting (pendek). Penyakit stunting yang diderita Raudatul disebabkan oleh gizi buruk berkepanjangan.

Di usia 9 tahun, berat badan Raudatul hanya seberat 4 kg. Asupan gizi anak bungsu dari Salbiah (42) ini tak pernah tercukupi. Hal ini disampaikan oleh Romi dari tim Mobile Social Rescue (MSR) - ACT saat berkunjung ke kediaman Raudatul awal Maret lalu.

“Pas kami menjenguk Raudatul, kondisinya sangat memprihatinkan. Raudatul hanya bisa berbaring di tempat tidur, untuk menggerakkan tubuhnya saja harus dibantu ibunya atau orang lain,” ungkap Romi.

Keadaan kesehatan Raudatul tidak terlepas dari kondisi finansial keluarga Raudatul begitu terbatas. Ayah Raudatul telah wafat beberapa tahun yang lalu. Sementara Salbiah, ibu sekaligus tulang punggung keluarga Raudatul, hanya berkerja sebagai buruh tani.

Senin (4/3), tim MSR-ACT kembali mendatangi kediaman Raudatul dan membawa anak perempuan tersebut ke Puskesmas Kara Baru. Tak lama setelahnya, Raudatul dirujuk ke Rumah Sakit Selong untuk mendapatkan penanganan secara intensif. Tim juga berkoordinasi dengan dinas kesehatan setempat untuk merespons kasus gizi buruk Raudatul.

“Alhamdulillah, setelah dirujuk ke RS Selong dan mendapatkan penanganan medis, Raudatul perlahan membaik. InsyaAllah tim kami akan terus mendampingi Raudatul sampai kondisinya benar-benar pulih,” ucap Romi.

Selain mendampingi Raudatul dalam mendapatkan penanganan medis, tim MSR - ACT juga memberikan paket gizi serta sembako untuk keluarga Raudatul.

Menurut badan kesehatan Dunia WHO, Indonesia ada di urutan kelima jumlah anak dengan kondisi stunting. Stunting adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama, umumnya karena asupan makan yang tidak sesuai kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun.

ACT turut bergerak cepat mengatasi kasus gizi buruk di Indonesia. Intervensi gizi secara menyeluruh diberikan melalui program Bengkel Gizi Terpadu (BGT). Di Lombok, program BGT telah dimulai sejak Desember 2018 lalu dan masih berlangsung hingga kini. []