Gizi Buruk Hantui Hidup Anak-Anak Yaman

Sebagian besar keluarga di Yaman membeli makanan dengan mencicil dan berhutang. Sejak krisis melanda, hampir seluruh harga kebutuhan pokok naik hampir 50 persen dibandingkan dengan sebelum krisis

Gizi Buruk Hantui Hidup Anak-Anak Yaman' photo
,Anak-anak di Yaman mengalami kekurangan gizi yang amat parah. Kelaparan membuat tubuh anak-anak di Yaman tidak bertenaga. (ACTNews)

ACTNews, ABS, ASLAM – Kementerian Kesehatan di Aslam, Distrik Abs, Yaman mengeluarkan pernyataan bahwa lebih dari enam juta anak-anak di Yaman berisiko malnutrisi akibat perang yang terus berlanjut. Selain perang, penyebab tingkat kematian anak-anak di Yaman juga disebabkan dampak konflik yang telah berlangsung selama lima tahun ini. Tiga orang anak meninggal dunia dalam serangan udara yang menewaskan lima orang warga sipil Selasa (22/10) lalu, seperti diberitakan Al Jazeera.

Hasna Ahmed bercerita, cucunya harus berjuang dari malnutrisi. “Ia harus berjuang dari malnutrisi sejak kami berada di wilayah Sa’dah. Saya takut kehilangan dia sebagaimana saya kehilangan suami dan anak saya,” cerita Hasna kepada Al Jazeera. Saat ini Hasna mengungsi ke wilayah Aslam.

Keadaan di Yaman yang terus memburuk juga dilaporkan langsung mitra Aksi Cepat Tanggap (ACT) di Yaman. Menurut data yang diterima tim Global Humanity Response (GHR) - ACT,  lebih dari 20 juta orang di Yaman mengalami kerawanan pangan.

"Untuk pertama kalinya, Klasifkasi Fase Keamanan Pangan Terpadu (IPC) telah mengkonfirmasi bencana kelaparan bencana di beberapa lokasi. Diperkirakan 7,4 juta orang memerlukan layanan untuk mengobati atau mencegah kekurangan gizi, termasuk 3,2 juta orang yang membutuhkan perawatan atas kekurangan gizi akut, mereka adalah dua juta anak di bawah usia lima tahun dan lebih dari satu juta wanita hamil dan menyusui," lapor Andi Noor Faradiba dari tim GHR-ACT, Selasa (29/10).

Selain kasus pangan, Yaman juga menghadapi kondisi keamanan yang memprihatinkan. "Yaman menghadapi krisis perlindungan yang parah. Warga sipil menghadapi risiko serius terhadap keselamatan, kesejahteraan, dan hak-hak dasar,"  lanjut Faradiba.

Data yang ACT himpun menunjukkan, puluhan ribu orang terluka sejak 2015 dan diperkirakan 3,3 juta orang masih mengungsi, naik dari 2,2 juta tahun lalu. Dari jumlah tersebut, sebanyak 685.000 orang yang melarikan diri dari pertempuran di Al Hudaydah dan di Pantai Barat sejak Juni.

Intensitas konflik secara langsung berkaitan dengan keparahan kebutuhan. Kebutuhan kemanusiaan paling akut terdapat di wilayah yang paling terkena dampak konflik. "Terrmasuk Taizz, Al Hudaydah, dan Sa'ada Governorate. Lebih dari 60 persen orang di gubernur ini sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan," pungkas Faradiba.[]

Bagikan

Terpopuler