Global Philanthropist Gathering: Menciptakan Sinergi Dakwah dan Bisnis

Global Philanthropist Gathering: Menciptakan Sinergi Dakwah dan Bisnis

ACTNews, JAKARTA - Dalam bertahan hidup, manusia harus memenuhi kebutuhannya baik material maupun spiritual. Proses pemenuhan kebutuhan material kerap menjadi sesuatu yang pelik, sebab sumber daya terbatas sedangkan kebutuhan manusia tidak terbatas. Akan tetapi, Allah telah mengatur rezeki hamba-Nya dan cara yang baik untuk mengumpulkan rezeki agar memenuhi kebutuhan mereka. Topik inilah yang banyak disorot dalam acara Global Philanthropist Gathering yang diselenggarakan oleh Aksi Cepat Tanggap pada Selasa (20/6).

Pertemuan yang bertajuk “Buka Hati, Raih Bahagia Sejati” ini dihadiri oleh sejumlah penderma dan aktivis kemanusiaan. Dengan suasana sharing session yang kasual, beberapa penderma dan pakar ekonomi syariah berbagi pengalaman dalam mengelola bisnis yang sejalan dengan dakwah. Mereka adalah Dr. Imam Teguh Saptono, ahli ekonomi syariah sekaligus mantan Dirut BNI Syariah, serta Lina Liputri, pemilik PT. L’Essential yang aktif berderma dalam kegiatan kemanusiaan.

Imam Teguh Saptono mengaku, ia baru menekuni ekonomi syariah sejak lima tahun lalu. Ekonomi syariah ditekuninya seiring ia dihantam kesadaran bahwa manusia memiliki dua tugas, yakni ibadah dan berdakwah. Ibadah adalah kemampuan untuk bertahan hidup dan dakwah adalah kapasitas untuk bertumbuh. Dua elemen ini dijadikannya dasar untuk membangun BNI Syariah semasa kepemimpinannya.

Ekonomi syariah, menurut Imam Saptono, berasal dari risalah. Maka, penyampaiannya pun tidak bisa dilakukan melalui marketing mix (konsep 4P; place, product, promotion, dan price). Bila menggunakan marketing mix, suatu produk akan dibandingkan dan diganti bila dirasa kurang baik oleh konsumen.

 

“Sedangkan bila menggunakan dakwah, konsumen akan mengonversi sehingga tidak berubah. Bank pasti untung, karena bila nasabah jadi menggunakan produk maka dia untung, tapi bila nasabah tidak jadi, setidaknya sudah melakukan dakwah,” tutur Imam Saptono secara detail.

Ia menambahkan, ekonomi syariah haruslah menggunakan Al-Quran sebagai dasarnya. Namun, ekonomi syariah yang terbaik adalah yang menghidupkan nilai-nilai Al-Quran dan As-Sunnah alih-alih menumpang hidup pada keduanya. Organisasi juga harus menanamkan kunci-kunci dakwah dalam penyampaian produknya, yakni akhlak, ilmu, teladan, dan ikhlas.

Ide itu lantas dirumuskannya dalam konsep Dakwah First, Business Follows. Imam Saptono mengakui gagasan tersebut didapatkannya dari seorang delegasi Uzbekistan yang ditemuinya dalam forum ekonomi. Delegasi tersebut mengingatkan bahwa tidaklah seseorang perlu menuntut privilese dari otoritas untuk membangun ekonomi syariah.

“Cukup hidupkan Al-Quran, maka niscaya Allah akan sukseskan,” tegas Imam Saptono.

Di perusahaannya terdahulu, Imam Saptono menerapkan konsep tersebut dengan cara sederhana: musnahkan riba, suburkan sedekah. Lakukan dengan lillah, fillah, dan billah. Penerapan konsep tersebut berbuah manis. Di akhir kepemimpinannya, perusahaannya memperoleh 41 penghargaan.

 

“Saya percaya bahwa akumulasi harta seharusnya diserahkan pada umat, bukan individu. Karena bila diserahkan pada umat, niscaya tidak akan hilang nilainya,” tuturnya.

Menanggapi gagasan Imam Saptono, Senior Vice President Aksi Cepat Tanggap Imam Akbari berpendapat, sedekah di jalan kemanusiaan akan menyuburkan berkah rezeki yang didapat Allah. Sedekah sebagai bentuk kedermawanan menjadi salah satu penggerak ACT sebagai lembaga filantropi, selain kemanusiaandan kerelawanan. Kedermawanan (philanthropy) menjadi penegak nilai hablum minannas, yakni perintah untuk menjalin hubungan yang baik dengan manusia dan menyebar manfaat seluas mungkin.

Selain itu, Islam sebagai agama rahmatan lil alamin juga menyediakan sumber daya modern dan teknologi yang harus digunakan untuk mengembangkan manfaat filantropi.

“Lembaga kemanusiaan haruslah dikelola secara modern tanpa keluar dari koridor prinsip-prinsip Islam. Itulah yang kami dari ACT percayai. Sehingga, ACT bisa beraksi secara cepat, tepat, dan hebat,” tutur Imam Akbari.

Cepat berarti implementasi harus segera dilakukan dalam kondisi apapun sehingga bisa meminimalisasi penderitaan yang dialami umat. Tepat berarti program yang diimplementasikan haruslah sesuai dengan latar belakang masyarakat yang berusaha dibantu, sebab ada relativisme budaya. Hebat berarti program ACT ditargetkan bisa membentuk komunitas yang berdaya sendiri.

“Hasil akhirnya adalah multiplier effect. Semua orang yang terlibat dalam filantropi ini bisa menerima manfaat. Mulai dari penerima manfaat, relawan, sampai donatur,” tambah Imam Akbari.

 

Sementara itu, Lina Liputri menekankan pentingnya menggunakan empat jenis modal untuk manfaat bersama. Modal tersebut adalah modal materi, intelektualitas, sosial, dan spiritual. Jika dikombinasikan, keempat modal ini akan menghasilkan bisnis yang lancar dan luas manfaatnya. Sehingga, keberkahan akan dirasakan pemilik bisnis.

Dakwah dan bisnis bisa menjadi dua hal yang komplementer dan menyejahterakan banyak orang. Hal ini juga dituturkan oleh Dwiki Darmawan, musisi yang kerap berkolaborasi dengan ACT untuk kegiatan kemanusiaan.

“ACT sebagai lembaga filantropi membuktikan bahwa Muslim Indonesia adalah Muslim yang toleran, bermanfaat secara global, dan mampu mempromosikan perdamaian di dunia,” ujar Dwiki.

Ekspresi penuh senyum tertinggal di wajah hadirin kala itu, kombinasi dari kesadaran bahwa manusia tidak hidup sendiri. Tekad itu pun muncul; untuk menjadi manusia yang bermanfaat seluas-luasnya. []

Tag

Belum ada tag sama sekali