Gurih Daging Kurban di Antara Manis Tawa Anak-Anak Gaza

Gurih Daging Kurban di Antara Manis Tawa Anak-Anak Gaza

ACTNews, GAZA, Palestina - Belasan anak-anak Gaza itu sedang berlarian di tengah tanah lapang luas. Ayunan berkarat dan sebuah bola sepak jadi mainan, lapangan luas pun menjadi pilihan satu-satunya tempat untuk bermain. Kadang di lapangan, kadang pula di pasir pantai yang memanjang di sebelah barat Gaza. Sebab di dalam rumah, listrik baru saja dipadamkan, tidak ada yang bisa dilakukan dalam rumah yang gelap dan pengap.

Sepanjang hari, di tengah gemerlap lampu kota-kota besar di seluruh sudut dunia, listrik tidak pernah menyala 24 jam di Gaza.

Mungkin dalam sehari Gaza hanya punya kesempatan dialiri listrik kurang dari 4 (empat) jam. Israel membatasi aliran listrik yang masuk, kalaupun menyala sekira 4 (empat) jam dalam sehari, itu harus ditebus dengan tarif yang mahal. Beberapa genset besar yang dimiliki warga Gaza di tengah kota sudah tak mampu lagi menyala penuh, alasannya karena minyak yang tak ada. Sulit mendapat seliter bahan bakar di dalam Kota Gaza yang dikepung.

[photo: Ezz Zanoun/Al Jazeera]

Sementara itu, di dalam rumah Muntaser Bakr (14) di sebuah sudut Gaza City, sebuah televisi baru saja dinyalakan. Muntaser memilih tontonan channel anak-anak Spacetoon. Meski jiwa dan fisik Muntaser masih serupa anak-anak lain di seluruh dunia, tapi di balik gurat wajahnya jelas tersimpan rasa takut dan trauma yang mendalam.

Akhir Agustus 2017 kemarin, beberapa hari jelang lebaran kurban tahun 2017, tepat tiga tahun sudah Muntaser mengalami tragedi paling menakutkan dan memendam trauma bagi dirinya.

Melansir cerita Al Jazeera, tiga tahun lalu, di akhir Agustus 2014, Muntaser sedang bermain di tanah lapang, bersama dengan adiknya Zakaria, seorang keponakannya, dan dua orang sepupunya. Tanpa pernah Muntaser tahu, sepersekian detik kemudian sebuah rudal jelajah jarak jauh mengarah tepat ke arah pesisir pantai.

[photo: Ezz Zanoun/Al Jazeera]

Setelah itu hanya gelap yang ada. Muntaser, juga adiknya Zakaria, seorang keponakan dan dua orang sepupunya menjadi korban dari serangan brutal Israel atas Gaza, di bulan Agustus 2014 lalu.

Muntaser selamat dalam ledakan itu, tapi tidak dengan 4 saudaranya yang tewas terkena serpihan rudal Israel. Sejak kejadian itu hingga hari ini, Muntaser hanya ingin berdiam diri di balik televisi. Trauma mengunci senyumnya.

Masih teringat betul dalam ingatan kolektif masyarakat dunia, Agustus tahun 2014 lalu Israel melancarkan serangan 50 hari atas Gaza. Bom dan rudal jelajah menjadi senjata utama Israel. Lebih dari 2.200 jiwa Palestina tewas, termasuk 500 orang anak-anak Gaza yang tak pernah tahu apa salah mereka. Agustus 2017 kemarin menjadi peringatan 3 (tiga) tahun serangan 50 hari Israel ke Gaza.

Muntaser tak sendiri, sampai tiga tahun setelahnya, trauma dan rasa takut tentu masih terpendam dalam jiwa ribuan anak-anak Gaza lainnya. Tetapi, trauma bisa sejenak terobati karena Lebaran Kurban - Idul Adha 1438 H datang di awal September, hanya berselang hari setelah Agustus 2017.

Perlahan lupakan trauma, gurih daging kurban bertemu manis senyum anak Gaza

Awal September kemarin, tepat di Hari Raya Idul Adha 2017, Global Qurban kembali lagi untuk Gaza. Ribuan potong daging kurban dititipkan kepada Global Qurban untuk disampaikan hingga ke sudut-sudut kota Gaza.

Ribuan domba, ratusan sapi, dan puluhan unta menjadi kado dari masyarakat Indonesia untuk Gaza. Semua sudut Gaza tak luput mendapat daging kurban yang sama, mulai dari North Gaza, Gaza City, Middle Area, Khan Younis, Rafah, sampai Old City Gaza.

Jomah al Najjar, perwakilan mitra Global Qurban di Gaza mengatakan, jumlah penerima manfaat Global Qurban di Gaza tahun ini jauh meningkat. “Alhamdulillah kurban dari Indonesia tahun ini bisa sampai ke 38.600 penerima manfaat,” kata Jommah.

Jommah menambahkan, jumlah penerima manfaat Global Qurban di Gaza kurang lebih setara dengan 4.600 keluarga. “Paling banyak kami prioritaskan untuk anak-anak Gaza, hitungan kami sekitar 27.600 anak Gaza bisa merasakan gurihnya kado daging kurban dari Indonesia,” kata Jommah dalam laporannya yang diterima ACTNews.

Dari Kota Beit Lahia, Yaser Ali Rehman (55) seorang warga Gaza dengan 4 (empat) orang anak mengucapkan rasa terima kasihnya kepada masyarakat Indonesia. “Terima kasih untuk Indonesia, Idul Adha tahun ini ada daging kurban yang datang ke rumah saya. Kata anak-anak di rumah, daging kurban yang diberikan ini sangat besar. Sudah lama anak-anak tidak makan daging. Ini hari Idul Adha yang berkesan. Doa kami semoga Allah menjaga Indonesia,” kata Yaser.

Ada pula cerita membahagiakan lain dari Ali Ahmed al-Jadba (57) di Gaza City. Lelaki paruh baya dengan rambut dan janggut yang sudah memutih ini tak mampu berbuat banyak untuk memberikan hadiah 7 (tujuh) anaknya daging kurban di hari lebaran Idul Adha. Hari-hari Ali tak punya penghasilan dan pekerjaan tetap.

“Alhamdulillah. Terima kasih yang paling dalam untuk Global Qurban dari Indonesia. Tujuh orang anak saya betul-betul memimpikan bisa makan daging di hari lebaran Idul Adha seperti keluarga lain. Lihat anak-anak saya semuanya bahagia. Hari lebaran ini mereka hampir lupa dengan takut dan trauma perang, semuanya sibuk mengunyah potongan daging kurban seperti anak-anak lain di seluruh dunia,” ungkap Ali penuh kebahagiaan.

Doa pun datang dari warga Gaza lain untuk Indonesia, “Tiga tahun lalu, Agustus 2014 Perang 50 hari atas Israel tak pernah bisa kami lupakan. Tapi tahun ini hanya beberapa hari setelah Agustus 2017 berakhir, ada daging kurban yang mampir ke rumah, membawa kebahagiaan. Doa kami semoga Allah berikan surga terbaik untuk masyarakat Indonesia, JazakAllah Khaer Indonesia,” kata Majdi Ahmed Alosh (33), seorang Ayah dengan sembilan orang anak dari Rafah City. []

Tag

Belum ada tag sama sekali