Guru dan Dai Terdampak Gempa Sulbar Siap Tempati Hunian Nyaman

Lebih dari dua pekan pascagempa, masih banyak warga Sulbar bertahan di pengungsian. Mereka membutuhkan hunian yang lebih layak, termasuk guru dan dai yang merupakan pejuang pendidikan generasi muda.

Relawan konstruksi ACT sedang mengecat hunian nyaman untuk keluarga di Dusun Sendana, Botteng Utara, Simboro, Mamuju. Hunian tersebut di hari dua pengerjaan telah selesai lebih dari 75 persen. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, MAMUJU – Lebih dari dua pekan pascagempa bumi magnitudo 6,2 mengguncang Sulawesi Barat, khususnya Majene dan Mamuju. Hingga kini penyintas banyak yang masih bertahan di tenda pengungsian. Mereka tinggal di tenda terpal yang begitu panas ketika siang dan dingin saat malam tiba. Penyintas ini berasal dari berbagai kalangan, mulai dari warga biasa, tokoh masyarakat hingga para pendidik seperti guru dan dai. Kondisi memprihatinkan seperti ini perlu segera dientaskan demi membangun kembali kehidupan warga Sulbar seperti sedia kala.

Salah satu penyintas gempa Sulbar ialah Leni, seorang guru yang tinggal di Dusun Sendana, Desa Botteng Utara, Kecamatan Simboro, Mamuju. Hingga dua pekan pascagempa, Leni bersama keluarganya bertahan di pengungsian yang ada di lapangan Dusun Sendana. Hal ini terpaksa dilakukan karena rumah yang ditinggali bersama orang tua dan anggota keluarga lainnya mengalami kerusakan parah hingga tak bisa ditempati kembali.

Dari pengamatan ACTNews, rumah Leni yang bangunannya masih semi permanen, dinding temboknya runtuh sehingga berpengaruh pada kekuatan kerangka rumah yang mayoritas berbahan kayu. Saat ini, rumah Leni dan keluarganya masih berdiri, akan tetapi rentan roboh, membahayakan, dan tak layak huni.

“Alhamdulillah keluarga selamat semua, tapi ipar dan keponakan saya luka cukup parah,” ungkapnya, Sabtu (30/1/2021).

Leni sendiri merupakan seorang guru yang mengajar di salah satu madrasah di Botteng Utara dan mengaji di lingkungan tempat tinggalnya. Gaji yang ia terima tiap bulan terhitung ratusan ribu saja. Sehingga, ketika terjadi bencana seperti ini, Leni mengalami kebingungan untuk membangun kembali tempat tinggalnya. Ia pun belum tahu akan berbuat apa, karena saat ini ketika masuk pekan ketiga pascabencana, Leni masih mengalami ketakutan yang mendalam akibat gempa.

“Untuk kegiatan mengajar di madrasah pertemuan tatap muka berhenti sejak corona, kalau mengaji berhenti karena gempa. Tapi sekarang sudah mulai lagi mengajinya, walau di tenda,” ujar Leni.

Hadirkan Family Shelter

Di awal pekan ketiga pascagempa, Aksi Cepat Tanggap (ACT) terus melakukan percepatan penanganan bencana. Salah satunya dengan menghadirkan hunian nyaman untuk keluarga atau family shelter dengan penerima manfaat di tahap pertama ialah guru dan dai, Leni salah satunya. Leni bakal menjadi penerima manfaat family shelter pertama di Sulbar dan bisa memanfaatkan hunian tersebut yang kondisinya lebih layak dibandingkan di tenda pengungsian. Apalagi, Leni juga ikut merawat iparnya yang mengalami luka dalam di bagian pinggul akibat tertimpa tembok, sehingga mengganggu fungsi gerak tubuhnya, khususnya berjalan.

Dede Abdul Rohman, Koordinator Pembangunan Family dan Integrated Community Shelter ACT mengatakan, family shelter ini bisa digunakan sampai kapan pun selama perawatan dari penghuninya baik. Ukuran bangunan seluas 6x3 meter dan dikerjakan dalam waktu paling lama empat hari. “Target kami pembangunan tiga sampai empat hari tergantung pada kondisi cuaca. Kami ingin memberikan hunian nyaman terbaik dan secepat mungkin bagi guru dan da’i,” harap Dede, Sabtu (30/1/2021).

Selain bagi guru dan dai, warga lain yang juga terdampak gempa Sulbar bisa mendapatkan hunian nyaman dari ACT melalui Integrated Community Shelter (ICS). Direncanakan hunian nyaman ini bakal dibangun di dua lokasi, yaitu lapangan Dusun Sendana, Desa Botteng Utara, Simboro dan di lapangan Desa Ahu, Kecamatan Tapalang Barat, Kabupaten Mamuju. “Dukungan dermawan sangat dinantikan agar warga Sulbar segara bangkit, khususnya memindahkan mereka ke tempat yang lebih layak,” ungkap Dede.[]