Guru di Bekasi Berjuang Memberantas Buta Baca Alquran

Meskipun serba berkebatasan, Suhaimi (35) terus memperjuangkan TPA Minhajul Falah di Kampung Cabang Dua, Desa Lenggahsari, Kecamatan Cabangbungin, Kabupaten Bekasi. Ia dan rekan-rekannya pun berjuang tanpa bayaran sama sekali. Baginya jangan sampai masyarakat terbatas ekonomi dan terbatas juga pengetahuannya tentang Alquran.

Suhaemi (35) sedang mengajar para santri atau murid di TPA Minhajul Falah yang ia dirikan sejak 2008. Pada tahun 2012, karena uluran kedermawanan sekelompok majelis taklim, TPA tersebut mulai direnovasi sehingga memiliki dinding dan lantai serta atap yang lebih baik meski masih sederhana. (ACTNews/Fhirlian Rizqi)

ACTNews, KABUPATEN BEKASI – Meski berlokasi cukup jauh dari pusat kota, anak-anak di Kampung Cabang Dua, Desa Lenggahsari, Kecamatan Cabangbungin, Kabupaten Bekasi tetap berhak mendapatkan akses pendidikan agama. Alasan tersebut membuat Suhaemi (35) bertekad mengabdikan sebagai pendidik.

Sudah hampir 12 tahun Suhaemi menjadi guru di Taman Pendidikan Al-Quran (TPA/TPQ) Minhajul Falah. Lembaga itu ia dirikan pada tahun 2008, bangunannya sederhana dan belum semua lantai dipasang keramik. Ada enam ruang kelas yang disekat gudang. Jalan menuju ke tempat ini pun belum teraspal.

Suhaemi baru saja selesai mengisi pelajaran ketika Tim ACT Bekasi mengunjungi kediamannya yang tepat bersebelahan dengan sekolah, Jumat (16/9) siang. Riuh suara para murid di bangunan sebelah terdengar keras mengulangi bacaan seorang guru yang sedang mengajar. Bukan hanya dari Desa Lenggahsari, Kecamatan Cabangbungin, murid-murid Suhemi juga berasal dari Kecamatan Muaragembong.


Kondisi bangunan kelas TPA Minhajul Falah, di Kampung Cabang Dua, Desa Lenggasari, Kecamatan Cabangbungin, Kabupaten Bekasi. (ACTNews)

Ekonomi masyarakat di Desa Lenggahsari yang sebagian besar masih menengah ke bawah membuat pria kelahiran 1986 itu bertekad menyediakan akses pendidikan yang memadai dan terjangkau demi mencegah anak-anak mengalami buta huruf Alquran.

“Semenjak keluar dari pondok pesantren, saya insyaallah sudah berniat untuk mewakafkan diri ini untuk dakwah, salah satunya lewat pendidikan. Sementara itu, ekonomi masyarakat yang lemah di kampung ini jangan sampai membuat mereka buta membaca Alquran,” kata Suhaemi.

Demi merealisasikan niat tersebut, ia bersama tiga orang guru yang mengajar pun tidak membebankan biaya atau sekadar infak kepada para murid. Dulu, sempat pernah ada pemberlakuan biaya demi memenuhi kebutuhan operasional, namun malah membuat murid-murid tidak belajar.

“Dulu pernah kami terapkan biaya satu santri Rp 10 ribu tiap bulan, tetapi malah berkurang muridnya. Bagi orang tua mereka, biaya sebesar itu memang cukup berat. Lalu, kami turunkan Rp 5 ribu, juga tidak jalan. Akhirnya kami gratiskan,” ungkapnya. Menurut Suhaemi, bayaran tiap bulan memberatkan orang tua murid yang harus memberangkatkan anaknya mengaji menyeberang sungai dari Kecamatan Muara Gembong. Sekali menumpang eretan (perahu) mereka harus mengeluarkan ongkos Rp 2 ribu, dan pulang pergi Rp 4 ribu. 

Berbagi Upah dengan Guru Lain

Persoalan kesejahteraan memang jadi masalah yang kerap kali membayangi para guru. Termasuk Suhaemi. Dengan menggratiskan biaya belajar, TPA cukup kesulitan memenuhi kebutuhan dasar dalam menjalankan kegiatan belajar mengajar seperti biaya listrik dan fasilitas belajar. Meski begitu, ia tetap ikhlas dan meyakini bahwa hal tersebut harus ia tempuh sebab ada keberkahan di dalamnya.

Untuk bisa memberikan apresiasi kepada guru di TPA tersebut, Suhaemi pun bahkan rela membagi upah mengajarnya di sekolah lain sebesar Rp150 ribu per bulan kepada tiga guru lainnya. Hal tersebut dilakukan agar para guru tetap memiliki penghasilan guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.


“Sewaktu masih dikenakan infak, satu bulan itu para guru mendapat Rp 200 ribu. Namun, karena sekarang digratiskan, jadi sama sekali tidak ada gaji untuk guru. Alhamdulillah saya juga mengajar di sekolah lain, honornya Rp150 ribu per bulan.  (Honor) saya bagi untuk tiga orang guru TPA,” tutur Suhaemi.

Adapun, guna memenuhi kebutuhan rumah tangga, Suhaemi membuka usaha di rumahnya dengan berjualan makanan ringan, gorengan, dan warung kelontong sederhana bersama sang istri. 

“Karena saya yakin insyaallah, seperti yang ada pada sebuah ayat Alquran, bahwa siapa yang membela agama Allah, pasti akan dibela Allah dan akan ditetapkan pendiriannya. Insyaallah akan ada keberkatan di sini. Jangan sampai masyarakat di sini sudah lemah ekonomi, juga lemah masalah pengetahuan agama,” jelasnya.


Senyum kecil Suhaemi (35) setelah mendapat bantuan biaya hidup dari ACT Bekasi. Suhaemi telah mendedikasikan diri sebagai guru sejak tahun 2008 selepas ia menempuh pendidikan di pondok pesantren. (ACTNews/Fhirlian Rizqi)

Program Sahabat Guru Indonesia (SGI) menjadi awal perjumpaan Suhaemi dengan Aksi Cepat Tanggap (ACT) Bekasi. Suhaemi menjadi salah satu guru yang menerima bantuan biaya hidup. Pria yang memiliki dua orang anak ini pun mengaku bersyukur telah mendapat bantuan tersebut.

Tim Program ACT Bekasi Muhamad Ihsan mengatakan, Suhaemi layak mendapat bantuan sebagai upaya untuk menguatkan perjuangannya dalam berdakwah dan membina anak-anak melalui TPA yang ia dirikan di pelosok Bekasi ini.

“Sosok seperti Bapak Suhaemi sangat layak didukung dan dikuatkan. Lewat perjuangannya demi memberantas buta baca Alquran di wilayah yang bisa dibilang pelosok. Sahabat dermawan yang ingin turut membantu perjuangan para guru di Indonesia khususnya Bekasi, bisa menyalurkan zakat atau sedekahnya melalui tautan bekasi.indonesiadermawan.id/SahabatGuruIndonesia atau transfer ke rekening BNI Syariah 8660291020020123,” jelas Ihsan.[]