Guru di Pelosok Tasikmalaya Terima Biaya Hidup dari Global Zakat

Gaji sebagai guru tak mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari Siti dan Koko, guru honorer di Tasikmalaya. Untuk itu, mereka harus bekerja lagi selepas mengajar.

Guru di Pelosok Tasikmalaya Terima Biaya Hidup dari Global Zakat' photo
Salah satu guru di Tasikmalaya yang menerima biaya hidup dari Sahabat Guru Indonesia. (ACTNews)

ACTNews, TASIKMALAYA – Siti Waliah (39) namanya. Ia adalah seorang guru honorer di Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) As-Sobatiyah di Desa Indrajaya, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya. Sebagai guru, Siti digaji Rp500 ribu per bulannya. Pekerjaan ini ia sudah lakukan selama lebih dari 13 tahun lamanya. Walau gajinya tak besar, Siti tetap bersyukur dan menikmati pekerjaannya ini.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, selain menjadi guru, Siti juga membuka jasa menjahit. Pendapatan sampingannya ini untuk membantu sang suami yang juga menjadi guru honorer serta buruh bangunan.

Global Zakat-Aksi Cepat Tanggap (ACT) pada Senin (2/12) lalu berkesempatan menemui Siti. Pertemuan ini merupakan silaturahmi serta penyerahterimaan biaya hidup dari program Sahabat Guru Indonesia yang Global Zakat-ACT luncurkan pada 25 November 2019 lalu.

Tim Program Global Zakat-ACT Tasikmalaya Fauzi mengatakan, sejak program Sahabat Guru Indonesia ini diluncurkan, sudah ada tujuh guru di wilayah kerja ACT Tasikmalaya yang mendapatkan bantuan biaya hidup. Guru-guru tersebut ialah mereka yang tak memiliki gaji tetap dan bergaji rendah. “Program Sahabat Guru Indonesia merupakan bentuk apresiasi Global Zakat kepada guru-guru yang telah mengabdikan dirinya untuk pendidikan,” jelas Fauzi.

Di hari Senin itu, selain Siti, masih beberapa guru lagi yang mendapatkan beaguru dari Global Zakat. Salah satunya Koko (60), yang telah menjadi guru honorer selama 43 tahun. Gajinya sebagai guru sangat kecil, tak mampu untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Sebagai tambahan, Koko juga bekerja sebagai buruh tani tiap kali selesai mengajar.

Siti dan Koko merupakan beberapa dari ribuan guru honorer di Indonesia dengan gaji rendah. Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemeterian Pendidikan dan Kebudayaan Supriano di dalam rilis 21 Oktober 2019 lalu mengatakan, di akhir tahun 2017 lalu guru honorer di Indonesia terdata 735.825 orang. Sedangkan pada Desember 2018, terdapat kenaikan angka hingga 41 ribu orang. Di antara angka ini ada ribuan guru di berbagai penjuru negeri yang bergaji rendah, bahkan pembayarannya harus dirapel tiga hingga enam bulan sekali. []


Bagikan

Terpopuler