Guru di Surabaya Berjualan Jamu Keliling di Masa Pandemi

Melemahnya ekonomi imbas wabah Covid-19 juga dirasakan guru honorer di berbagai penjuru negeri ini. Beragam cara mereka lakukan demi menutupi kebutuhan hidup. Salah satunya dengan berjualan jamu keliling, seperti yang dilakukan Nasrul.

Nasrul menjajakan jamunya menggunakan kotak yang diletakan di bagian belakang sepeda yang dikayuhnya. Cara ini dilakukannya sejak libur mengajar karena wabah corona. (ACTNews)

ACTNews, SURABAYA Ada yang berbeda dengan panas terik Surabaya pada Senin (13/4) siang itu. Sebuah sepeda tua tampak berhenti cukup lama di depan kantor Aksi Cepat Tanggap (ACT) Jawa Timur di Surabaya. Pengemudinya tampak membawa boks berisi dagangan di belakang sepedanya. 

Nasrul nama pengemudi sepeda itu.  Sambil malu-malu ia memperkenalkan diri kepada tim ACT Jatim. Profesinya sebagai guru privat ngaji dan bahasa arab. Namun, sejak adanya pandemi corona dan pembatasan sosial, terpaksa ia berhenti mengajar.

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya bersama istri dan anaknya, selain mengajar, Nasrul biasa menjajakan sari kedelai. Akan tetapi, kini pelanggan sari kedelainya sepi. Saat ini, bapak dua anak itu berjualan jamu dengan harapan pelanggannya lebih banyak. Sinom, temulawak, jahe merah, hingga kunir asem adalah ragam jamu yang Nasrul jajakan.

“Sekarang penghasilan berkurang banget. Orang-orang enggak lagi banyak keluar rumah, jadi susah buat menawarkannya juga,” ujar pria yang sempat mengenyam pendidikan di salah satu kampus negeri di Surabaya, namun belum dapat terselesaikan karena faktor biaya.

Guna memenuhi kebutuhan sehari-hari, Nasrul dibantu sang istri yang juga bekerja menjadi guru honorer di salah satu sekolah swasta di Surabaya. Tak banyak memang gaji mereka berdua. Penghasilan itu digunakan juga untuk biaya dua anaknya yang sedang menempuh pendidikan di pesantren.

Di hari itu, Senin (13/4), ACT Jawa Timur memberikan beras untuk Nasrul bawa pulang. Beras wakaf ini berasal dari program Operasi Beras Gratis yang ACT luncurkan sebagai langkah penanganan dampak wabah corona. Berkolaborasi dengan Azhari School, ACT telah mendistribusikan beras hingga 1,5 ton ke masyarakat prasejahtera.

"Terima kasih kepada teman-teman ACT yang sangat peduli pada kami masyarakat prasejahtera, semoga keberkahan selalu membersamai perjuangan kita," pungkas Nasrul.

Nasrul beserta istrinya merupakan beberapa di antara guru yang terdampak perekonomiannya sejak wabah Covid-19 melanda Indonesia. Di wilayah lain, guru honorer pun nasibnya serupa Nasrul. Selain memberikan bantuan beras dari program Operasi Pangan Gratis, ACT juga terus membersamai perjuangan guru di tengah pandemi dengan program Sahabat Guru Indonesia. Riski Andriyani, Koordinator Program Sahabat Guru Indonesia, mengatakan banyak sekali guru honorer yang kini tak jelas penghasilannya karena jam mengajarnya tak ada lagi selama sekolah diliburkan. Sedangkan mereka digaji per jam mengajar. “Sejak November tahun lalu sampai awal April ini paling tidak sudah ada 2 ribu serah terima bantuan hidup bagi guru melalui program Sahabat Guru Indonesia,” ungkap Riski.[]