Guru Honorer Kian "Sesak" di Masa Pandemi Covid-19

Berbagai profesi ikut terdampak pandemi Covid-19, termasuk guru. Tak sedikit guru yang diliburkan seiring sekolah yang juga ditutup sementara waktu. Dampaknya, penghasilan mereka berkurang, terlebih bagi guru honorer.

Wasrifah (kanan) menerima beras wakaf dari tim ACT. Bantuan ini juga disertai bantuan hidup dari program Sahabat Guru Indonesia. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, JAKARTAIstitin sedang memasak untuk keluarganya saat tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) berkunjung ke rumahnya yang ada di kawasan Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu (18/4). Satu bulan terakhir, waktu Istitin banyak dihabiskan di rumah bersama keluarga. Wabah Covid-19 membuat sekolah tempatnya mengajar diliburkan dan gurunya dirumahkan sementara waktu hingga wabah mereda.

Salah satu sekolah di Kebon Pala, Tanah Abang menjadi tempat Istitin mengajar. Tiap bulan ia dibayar lebih kurang Rp600 ribu. Istitin merupakan guru honorer yang jika tak mengajar, gajinya akan dipotong Rp5 ribu per pertemuan. Walau tak seberapa, Istitin tetap merasa bersyukur atas penghasilannya. “Bisa melihat anak-anak belajar saja saya sudah senang,” ungkapnya.

Perekonomian keluarga guru honorer seperti Istitin ikut "sesak" karena pandemi Covid-19. Pasalnya, gaji yang didapatkan tak penuh seperti mengajar langsung ke sekolah. Apalagi saat ini suami Istitin yang berprofesi menjadi pengemudi ojek di sekitaran Pasar Tanah Abang tak lagi bekerja setelah pasar ditutup untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Hal serupa dirasakan Wasrifah, guru di salah satu sekolah di Kampung Bali, Tanah Abang. Sejak sekolah diliburkan, Wasrifah mengajar secara daring ke murid-muridnya. Ia mengajar di dua sekolah berbeda, namun salah satu sekolah tempatnya mengajar diliburkan total. Hal ini berpengaruh pada pendapatan Wasrifah.

“Pendapatan sekarang ini berkurang banget. Pendapatan suami saja juga berkurang, jadi ya harus pintar-pintar kelola uang,” tuturnya kepada tim ACT, Sabtu (18/4).

Suami Wasrifah merupakan pedagang peralatan jahit di Pasar Gandaria. Penjualannya kini semakin berkurang karena di hari biasa pun pembelinya juga tak banyak. Kondisi ini yang membuat pemenuhan kebutuhan keluarga Wasrifa semakin berat. Terlebih iuran sekolah ketiga anaknya terus berjalan walau kegiatan belajarnya diliburkan untuk sementara.

Istitin dan Wasrifah merupakan beberapa guru yang perekonomiannya terdampak imbas Covid-19. Nyaris semua sendi kehidupan terpengaruh wabah ini. Tak mengenal apa profesi mereka, bahkan guru sekalipun yang dipandang sebagai profesi mulia.

Sabtu (18/4), melalui program Sahabat Guru Indonesia, Global Zakat - ACT menyerahkan biaya hidup bagi Istitin, Wasrifah, dan beberapa guru lain. Biaya hidup ini diserahkan sebagai bentuk apresiasi jasa mereka serta penunjang hidup di tengah pandemi. Selain biaya hidup, paara guru juga menerima beras wakaf.

Fuad Mursidi dari Tim Program Global Zakat - ACT Jakarta Selatan mengatakan, program Sahabat Guru Indonesia terus berjalan sejak diluncurkan pada tahun 2019 lalu. Hingga kini, sudah ribuan guru di berbagai penjuru Indonesia yang mendapatkan bantuan hidup. “Bu Istitin dan Wasrifah jadi salah satu penerima bantuan biaya hidup untuk bertahan di masa pandemi ini. Program Sahabat Guru Indonesia akan terus menjangkau guru prasejahtera lainnya di Indonesia,” jelasnya.[]