Guru Nurhadi: Merasa Cukup sebagai Bentuk Syukur

Nurhadi, guru honorer di Pesantren Daar El Syifa, Desa Garut, Kecamatan Kopo, Serang, Banten, memaknai pengabdiannya sebagai guru selama 20 tahun dengan penuh syukur dan merasa cukup.

Guru Nurhadi: Merasa Cukup sebagai Bentuk Syukur' photo
KoordinatorProgram Sahabat Guru Indonesia Riski Andriani (kiri) menyerahkan simbolisasi apresiasi kepada Nurhadi (51), guru honorer pesantren El Syifa Kopo, Serang, Banten, Kamis (11/6). (ACTNews/Gina Mardani)

ACTNews, SERANG – “Wah, malah tidak ingat. Karena selama ini tidak difokuskan mengajar untuk mendapat penghasilan. Alhamdulillah, Allah kasih rezeki dari bidang lain,” kata Nurhadi (51). Guru sekolah swastra Daar El Syifa, Desa Garut, Kecamatan Kopo, Serang, Banten, itu amat lepas menceritakan kehidupan sehari-harinya di tengah pandemi. Tidak ada ucapan mengiba atau raut wajah bersedih ketika ACTNews menemuinya di Sekolah Bina Putera, Kamis (11/6).

Hari itu bertepatan dengan pembentukan pengurus wilayah Sahabat Guru Indonesia oleh Global Zakat - ACT di Sekolah Bina Putera, Nurhadi menerima manfaat program Sahabat Guru Indonesia untuk yang keempat kalinya. Ayah dua anak itu mengaku bersyukur, di tengah pandemi yang melumpuhkan segala aktivitas, termasuk belajar mengajar, masih ada para dermawan yang perhatian kepada para guru honorer.

Nurhadi melanjutkan cerita, sebagai guru honorer, ia memang mendapatkan gaji berdasarkan jam mengajar. Selama aktivitas Covid-19 dan sekolah diliburkan, ia tidak lagi pergi ke sekolah untuk mengajar. Ia mengaku tidak lagi mendapat penghasilan selama dua bulan ini.

“Memang tidak diingat-ingat ya, berapa lama tidak mendapat penghasilan dari mengajar,” aku Nurhadi disertai tawa.

Memenuhi kebutuhan makan keluarga, Nurhadi masih punya sepetak sawah yang saat ini bertepatan dengan musim panen. Ia mengaku, hasil sawah itu hanya dikonsumsi sendiri untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga.


Nurhadi 951) guru honorer di Kecamatan Kopo, Serang, Banten, anggota dan penerima manfaat Program Sahabat Guru Indonesia. (ACTNews/Akbar)

Walaupun telah mengabdi selama 20 tahun, Nurhadi tidak pernah berfokus pada penghasilan yang ia peroleh. Baginya, menjadi guru adalah pengabdian dan rezeki datang dari arah mana pun yang Allah kehendaki. “Merasa cukup, itu saja,” katanya lirih.

Rezeki yang datang tidak disangka itu salah satunya dari Global Zakat - ACT. Melalui program Sahabat Guru Indonesia, Nurhadi saat ini menerima tunjangan regular setiap bulan atas jasanya sebagai guru. Koordinator Program Sahabat Guru Indonesia Riski Andriani menerangkan, program tersebut terus digulirkan berkala, terutama di masa pandemi Covid-19.

Global Zakat bersama para dermawan berikhtiar terus mendukung semangat para guru prasejahtera yang mendidik anak bangsa. Hingga Juni ini, lebih dari seribu guru honorer di seluruh Indonesia yang telah diperhatikan melalui program Sahabat Guru Indonesia. Selain bantuan tunjangan hidup, program ini juga diharapkan menjadi organisasi yang mampu menjadi wadah advokasi bagi guru-guru honorer.

“Kami berharap, melalui kepengurusan Sahabat Guru Indonesia, aspirasi para guru dapat disampaikan. Di sisi lain kami libatkan para guru untuk menjadi relawan,” terang Riski.[] 


Bagikan

Terpopuler