Habiskan Hari Tua, Suwadi Baktikan Diri Merawat Musala

“Saya sudah tua. Jika hanya diam di rumah, waktu saya terbuang. Jadi di sisa umur, saya ingin ada manfaat, ibadah bekal buat nanti. Juga biar enggak pikun karena diam di rumah saja,” kata Suwadi, marbut Musala Nurul Falah.

Suwadi
Raut wajah Suwadi saat ditemui tim ACTNews. Dalam menghabiskan hari tua, Suwadi baktikan diri menjadi marbut di musala Nurul Falah. (ACTNews/Muhamad Ubaidillah)

ACTNews, TANGERANG — Jam digital di dinding Musala Nurul Falah menunjukkan pukul 14.30 WIB. Suwadi (68) sudah tiba di musala yang terletak di Jalan PDAM, Desa Pagedangan Udik, Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang seorang diri. Waktu asar pada Sabtu (8/5/2021) jatuh pada pukul 15.12 WIB. “Saya mau siap-siap,” ujarnya sambil membuka gerbang. 

Wadisapaan akrabnyalangsung mengambil sapu di ruangan samping tempat wudu, lalu masuk ke dalam musala. Jendela dan pintu-pintu ia buka, tak lupa lampu juga ia nyalakan. Sesaat setelahnya sapu yang sudah ia genggam langsung diayunkan. Mulai dari sudut pengimaman hingga ke sudut saf paling belakang. Usai debu-debu di dalam dikeluarkan, giliran beranda musala ia bersihkan. 

“Kalau sore saya nyapu saja, pagi ngepel sama nyapu. Seminggu sekali bersihin WC sama tempat wudu. Iya begini saja kegiatannya, enggak ada yang lain,” kata Wadi saat diwawancarai ACTNews usai salat asar di Musala Nurul Falah, Sabtu (8/5/2021).

Wadi sudah dua tahun menjadi marbut Musala Nurul Falah dan tidak dibayar satu rupiah pun. Namun, ia menjalaninya untuk ibadah demi bekal akhirat nanti dan untuk merawat ingatan. Sebelum fokus menjadi marbut, Wadi bekerja sebagai nelayan dengan penghasilan tak menentu. 

“Saya sudah tua. Jika hanya diam di rumah, waktu saya terbuang. Jadi di sisa umur, saya ingin ada manfaat, ibadah bekal buat nanti. Juga biar enggak pikun karena diam di rumah saja,” kata Bapak tiga anak ini.

Musala Nurul Falah baru selesai direnovasi pada 2020 lalu. Wadi tak ingin musala yang sudah bagus akan kembali rusak dan tidak terurus. Sehingga, ia secara sukarela mengabdikan masa pensiunnya untuk menjadi marbut.