Hadapi Ancaman Musim Dingin Menahun, Pengungsi Suriah: Belum Ada Solusi Permanen

Ancaman suhu dingin, tidak adanya bahan bakar, kekurangan pakaian hangat, dan krisis bahan makanan selalu mengancam pengungsi Suriah setiap kali musim dingin datang. Mereka pun masih membutuhkan dukungan berkelanjutan.

Anak-anak bermain salju di depan tenda yang berlokasi pengungsian di Idlib, Suriah, pada musim dingin tahun lalu. (ACTNews)

ACTNews, KURDISTAN, ATIMAH – Khalid Mohammed pengungsi Suriah di wilayah Kurdistan, Irak, mengatakan selama ini belum ada solusi permanen yang diterima pengungsi Suriah setiap kali musim dingin datang. Menurut Khalid bantuan tenda di musim dingin hanyalah solusi sementara.

“Kamp sudah terlalu penuh tenda-tenda. Setahun berlalu mereka memberikan bantuan tenda lagi sebelum musim dingin tiba, namun ini bukan solusi. Ini hanya sementara menyelesaikan persoalan. Kami berharap solusi yang permanen,” kata Khalid.

Khalid mengatakan, mereka tidak bisa melakukan apapun atas bantuan tenda itu. Sementara tenda-tenda yang sudah mereka dapatkan diletakkan di wilayah kosong lainnya.

Musim dingin memang datang setiap tahun, menghantui dan membayang-bayangi kehidupan para pengungsi Suriah. Kali ini, musim dingin serta merta diikuti pagebluk Covid-19 yang juga menggoyahkan ekonomi para pengungsi. Di Irak, para pengungsi Suriah kehilangan pekerjaan mereka, salah satunya diceritakan Manal Farhad, pengungsi asal Qamishli.

“Dulu saya bekerja dan punya sedikit penghasilan, namun sudah dua bulan ini tidak lagi. Apa yang bisa dilakukan setengah dolar untuk empat orang? Tentu belum mencukupi,” kata ibu tiga anak itu.

Setiap tahun, musim dingin datang untuk memperparah penderitaan para pengungsi di tenda-tenda sementara. Di musim dingin, mereka harus berjuang untuk memenuhi makanan, tempat berteduh, dan kebutuhan lainnya. Reliefweb mengatakan, situasi rentan yang semakin memburuk membutuhkan solidaritas dari organisasi kemanusiaan untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Setiap musim dingin, Aksi Cepat Tanggap terus berikhtiar memberikan bantuan terbaik untuk para pengungsi Suriah. Tahun lalu misalnya, ACT menyalurkan bantuan musim dingin berupa selimut ke wilayah Atimah. “Paket selimut diberikan kepada 250 kepala keluarga. Mereka adalah pengungsi internal yang menjadi korban perang,” lapor Firdaus Guritno dari tim Global Humanity Response – ACT, Februari tahun lalu.

Bantuan untuk pengungsi Suriah pun diimplementasikan ke sejumlah wilayah lainnya. Di hari yang sama, bantuan musim dingin juga diberikan kepada pengungsi Suriah di Arsal, Lebanon. Bantuan selimut diberikan kepada 300 kepala keluarga pengungsi. Di kota Arsal, sekitar 65 ribu penduduk Suriah mengungsi. Kota itu menjadi salah satu lokasi terdingin di Lembah Bekaa. Suhu di Arsal bisa mencapai minus satu derajat Celsius. Saat ini, lebih dari lima juta penduduk Suriah mengungsi di Turki, Lebanon, Yordania, Irak, dan Mesir.[]