Hadapi Kemarau, Rohingya di Rakhine Sulit Dapatkan Air Bersih

Ketika kemarau berkepanjangan tiba, pengungsi internal Rohingya di negara bagian Rakhine, Myanmar, diterpa krisis air yang parah. Mereka hanya bergantung dari air sungai yang keruh untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.

krisis air rohingya
Potret para pengungsi internal Rohingya di Rakhine. (IRC/Kaung Htet)

ACTNews, SITTWE – Sekitar 130 ribu pengungsi internal Rohingya hidup terlantar di kamp pengungsian dan desa-desa di pinggiran Sittwe, ibu kota Negara Bagian Rakhine, Myanmar. Berbagai permasalahan kemanusian masih terus menyelimuti hari-hari mereka. Permasalahan air dan sanitasi menjadi salah satu yang terparah. Kekeringan yang intens, menjadi bencana alam yang terjadi setiap tahun di Rakhine. Kemarau panjang selalu datang usai musim hujan yang curahnya pun sangat rendah.

Firdaus Guritno dari tim Global Humanity Response ACT menjelaskan, krisis air memang menjadi masalah yang sudah bertahun-tahun menimpa pengungsi Rohingya di Rakhine. Ketika kemarau tiba, mayoritas pengungsi masih mengandalkan air sungai untuk memenuhi kebutuhan air.

"Mereka juga harus berjalan cukup jauh untuk menuju sumber air di sungai. Namun, tak jarang pula air yang mereka dapatkan bukan air bersih, melainkan air sungai kotor dengan warna yang keruh," ujar Firdaus.

Lebih lanjut, Firdaus menerangkan bahwa air tanah di Rakhine juga sangat terbatas dan tidak selalu tersedia setiap tahun. Sehingga, jika dibangun sumur di sana, Firdaus menyebut hanya akan bertahan dalam beberapa tahun sebelumnya akhirnya air di area tersebut mengering total.

Akibat kebiasaan konsumsi air kotor, pengungsi kerap menderita berbagai penyakit, seperti diare, radang usus atau disentri, hingga berbagai jenis penyakit kulit.

Sementara itu, Myint Oo, koordinator program senior untuk Relief International, mengatakan, kekurangan air di Rakhine juga berpotensi membuat wabah kolera akan meluas dan semakin parah jika tidak ada solusi segera terhadap krisis air tersebut.

Bahkan, imbas sanitasi yang buruk, Myint juga menyebut bahwa beberapa penyakit berbahaya yang menular seperti hepatitis A, bisa dengan mudah menyebar melalui rute fekal-oral, atau jalur pembuangan tinja.[]