Hadirkan Kurban, Lipur Lara Pengungsi Suriah dan Palestina di Lebanon

Tidak hanya berdampak pada warga Lebanon, krisis ekonomi juga berdampak pada pengungsi Palestina dan Suriah yang menetap di sana.

kurban lebanon
Ilustrasi. Pengungsi di Lebanon menerima daging kurban dari Global Qurban ACT pada 2020 lalu. (ACTNews)

ACTNews, LEBANON – Lebanon tengah mengalami krisis ekonomi yang parah. Harga berbagai kebutuhan pokok melambung tinggi, termasuk pangan. Harga satu kilogram beras yang sebelumnya tidak melebihi 3.000 pound Lebanon atau setara Rp29 ribu, kini mencapai 8.000 pound Lebanon atau Rp76 ribu. Sementara harga minyak goreng lima liter yang semula sekitar 18.000 pound, naik tujuh kali lipat menjadi 90.000 pound, atau sekitar Rp860 ribu.

Tidak hanya berdampak pada warga Lebanon, krisis ekonomi juga berdampak pada pengungsi Palestina dan Suriah yang menetap di sana. Di wilayah Bekaa contohnya, ada sekitar 200 ribu pengungsi Suriah dan Palestina hidup di sana yang terdampak. Para pengungsi yang sebelumnya telah mendapatkan pekerjaan, terpaksa mengalami pemutusan hubungan kerja sehingga kehilangan pemasukan untuk keluarganya.

"Warga Lebanon saja sudah kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangan, apalagi para pengungsi yang istilahnya hanya menumpang di sana," ujar Andy Noor Faradiba dari tim Global Humanity Response ACT, Rabu (30/6/2021).

Untuk kebutuhan pangan sehari-hari, mayoritas pengungsi terpaksa hanya mampu bergantung pada bantuan kemanusiaan dari pihak luar Lebanon. Jika mereka tidak mendapatkan bantuan makanan pada hari itu, maka di hari itu pula mereka tidak makan sepanjang hari

Untuk itu, Global Qurban ACT menjadikan Lebanon sebagai satu dari banyak negara yang ditargetkan menerima hewan kurban. Dengan daging kurban kualitas terbaik, diharapkan mampu meredam kelaparan para pengungsi di Lebanon. 

Ikhtiar ini pun bukan yang pertama. Tiap tahun, Global Qurban ACT selalu hadir di Lebanon untuk mendistribusikan daging kurban untuk para pengungsi. Pada 2020 lalu misalnya, daging hewan kurban yang disembelih di sana menyapa hingga ribuan pengungsi. Mundur panjang ke 2018, distribusi hewan kurban saat itu dilakukan di  Kota Arsal, sebuah kota di Lebanon yang berbatasan dengan Suriah.

Di kota yang mayoritas diisi perempuan dan anak-anak pengungsi Suriah tersebut, ratusan pengungsi merasakan kelezatan daging kurban pemberian Sahabat Dermawan. Para pengungsi yang tinggal di kamp dengan kondisi serba seadanya itu, berharap distribusi hewan kurban dapat kembali menggapai mereka.[]