Hampir 1.000 Anak Yaman di Distrik Hamdan Sakit Kronis

Akses untuk menjangkau fasilitas kesehatan masih menjadi masalah besar di Yaman.

Hampir 1.000 Anak Yaman di Distrik Hamdan Sakit Kronis' photo

ACTNews, SANA’A - Akses untuk menjangkau fasilitas kesehatan masih menjadi masalah besar di Yaman. Padahal konflik yang terus terjadi telah menambah jumlah populasi rentan, termasuk anak-anak yang turut menjadi korban. Tak hanya di titik konflik, tetapi juga wilayah yang menjadi tujuan para pengungsi internal.


Mengumpulkan fakta di lapangan, hampir 1.000 anak Yaman  yang tinggal di Distrik Hamdan menderita berbagai macam penyakit kronis. Menurut Andi Noor Faradiba dari Global Humanity Response - ACT, fakta didapat ketika tim menggelar aksi layanan kesehatan di Distrik Hamdan.


“Total pasien yang mendapat layanan kesehatan dari ACT di Distrik Hamdan, ada sebanyak 942 anak di bawah usia 5 tahun. Seluruhnya menderita penyakit kronis. Ada yang menderita cacingan, gangguan jantung, gangguan sistem imun, pembekakan hati dan limpa, hingga malnutrisi serta kanker,” papar Faradiba.



Pelayanan Kesehatan ACT untuk warga Yaman sendiri sudah berlangsung selama lebih kurang lima bulan, yakni sejak Desember 2018 lalu. Lokasinya berpindah-pindah, terakhir layanan kesehatan digelar di Klinik Qa’a Al-Earah, Distrik Hamdan, Kegubernuran Sana’a, Yaman.


Faradiba juga mengatakan, Pelayanan Kesehatan ACT tidak hanya menyasar anak-anak, tetapi juga para ibu hamil dan menyusui yang membutuhkan pemeriksaan dan penanganan rutin. Sebab, faktanya, fasilitas kesehatan yang terbatas juga menyebabkan mereka menjadi korban.


Bahkan jumlahnya tidak bisa diremehkan, yakni mencapai 430 ibu hamil dan menyusui asal Distrik Hamdan yang juga menderita penyakit kronis. Akibatnya pun akan berkelanjutan: menyerang janin yang ada di dalam kandungan.



“Bahkan beberapa ada pula yang menderita kesehatan akibat persalinan yang tidak tepat. Jelas, fakta itu membuat para ibu di Yaman juga membutuhkan layanan kesehatan, baik untuk memeriksakan kandungannya maupun untuk memeriksa kesehatan reproduksinya,” terang Faradiba.


Menurut laporan terkini Reliefweb pada akhir 30 April 2019, krisis kemanusiaan yang terjadi akibat konflik berkepanjangan di Yaman pun masuk ke dalam kondisi darurat terbesar di dunia. Faktanya, lebih dari 24,1 juta jiwa di seantero Yaman membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan.


Sementara kemunduran ekonomi juga masih berlanjut, dengan mata uang Yaman kehilangan hampir 50 persen dari nilainya sejak September 2018, menyebabkan keluarga yang terkena dampak tak mampu untuk membeli makanan.  Hanya 15 persen anak-anak yang mengkonsumsi makanan dan minuman untuk bertahan hidup, tumbuh, dan berkembang. []

Bagikan