Hampir Setahun Tim Medis ACT Layani Pengungsi Rohingya

Hampir Setahun Tim Medis ACT Layani Pengungsi Rohingya

Hampir Setahun Tim Medis ACT Layani Pengungsi Rohingya' photo

ACTNews, COX’S BAZAR – Layanan kesehatan menjadi hal yang sangat urgen dalam penanganan pengungsian, selain penyediaan kebutuhan pangan dan tempat berlindung bagi para pengungsi. Maka, dalam setiap penanganan kebencanaan yang dilakukan ACT, baik bencana alam maupun krisis kemanusiaan, ACT selalu menyediakan layanan kesehatan untuk para korban.

Misalnya saja penanganan pengungsi Rohingya di Kutupalong, Cox’s Bazar, Bangladesh. Layanan kesehatan gratis telah disediakan dari masa tanggap darurat atau saat awal para pengungsi mulai berdatangan ke perbatasan Bangladesh dan Myanmar. Hingga saat ini, ACT terus memaksimalkan program layanan kesehatan (Medical Aid) tersebut.           

Dalam penanganan para pengungsi Rohingya di kamp pengungsian Kutupalong, Cox’s Bazar, Program Medical Aid ACT awalnya hanya berupa pos kesehatan (health post) yang didirikan di dekat kamp-kamp pengungsi. Hal ini diungkapkan oleh Bambang Triyono selaku Direktur Global Humanity Response (GHR) ACT. 

Selanjutnya, ACT mendirikan mini klinik yang membuka layanan kesehatan gratis kepada para pengungsi Rohingya. Di mini klinik ini, para pasien bisa memeriksa kesehatannya, berkonsultasi dengan dokter, dan kemudian mendapatkan obat-obatan yang diperlukan.

“Kami membuka layanan kesehatan gratis di klinik ACT hampir setiap hari, kecuali hari Jumat, karena di Bangladesh hari tersebut libur. Di samping mini klinik yang terus berjalan, health post juga masih diadakan sekitar 1-2 kali dalam satu pekan. Hingga saat ini, Program Medical Aid ACT telah melayani sekitar lebih dari 23.000 pasien,” jelasnya.  

Tim medis ACT yang terdiri dari para dokter, apoteker, serta perawat (yang semuanya merupakan warga Bangladesh) melayani para pasien setiap harinya di Mini Klinik ACT di Thengkhali, Cox’s Bazar. Setiap harinya, Tim Medis ACT rata-rata mampu melayani 100 pasien, mulai dari pukul 08.00 hingga 16.00.  

Menurut salah satu anggota Tim Medis ACT, dr. Husein (32), kondisi kamp saat ini masih terbilang kurang higienis, meskipun di kamp pengungsi sudah membaik keadaannya, dibandingkan saat pertama kali mereka datang. Namun menurutnya, pola hidup para pengungsi yang kurang bersih dan tak sehat membuat mereka banyak terserang berbagai penyakit.

“Para pasien yang datang ke klinik kami mengeluhkan berbagai penyakit yang dideritanya. Penyakit yang sering dikeluhkan para pengungsi di antaranya: batuk, demam, sakit kepala, sakit punggung, diare, penyakit kulit, magh, lambung, batuk, kulit, dan penyakit lainnya,” ungkapnya, usai melayani para pasien Rohingya pada Senin (7/5).

Dr. Husein menambahkan, mayoritas pasien yang datang ke klinik ACT adalah perempuan dan anak-anak. Sisanya adalah orang tua dan laki-laki.  

“Keberadaan Klinik ACT ini sangat membantu para pengungsi dalam menjaga kondisi kesehatannya. Kini mereka (para pengungsi Rohingya) setiap kapan pun bisa berobat ke kami. Bahkan, ada sejumlah pengungsi yang sering mengecek kesehatannnya kembali, setelah beberapa pekan sebelumnya pernah kami layani,” tutur Alumnus Fakultas Kedokteran di International Islamic University, Chittagong, Bangladesh ini.   

Dr. Husein lantas menambahkan, Tim Medis ACT tidak hanya menggelar layanan kesehatan gratis setiap harinya, namun juga melakukan penyuluhan. Edukasi tidak hanya dilakukan di klinik saja namun mendatangi setiap kamp pengungsian, disertai mendistribusikan odol, sabun, sikat gigi serta peralatan kebersihan lainnya.

“Meskipun kami sering melakukan penyuluhan kesehatan, ternyata sebagian para pengungsi sulit mengaplikasikan untuk berprilaku atau menjalankan pola hidup sehat. Tidak mudah memang untuk mengedukasi mereka. Sangat dibutuhkan kesabaran untuk mengedukasi mereka. Meskipun seperti itu, kami optimis pola hidup para pengungsi bisa berubah,” jelasnya.       

Almurjan (50), ibu paruh baya yang merupakan salah satu pasien yang datang ke Klinik ACT, mengungkapkan rasa leganya usai diperiksa Tim Medis ACT. Kini penyakitnya bisa ditangani dan mendapatkan obatnya dari Tim Medis ACT.

“Saya memang mengalami gangguan pencernaan. Kondisi ini dirasakan tiga sampai empat bulan lamanya, karena efek perjalanan jauh dari kampung halaman saya di Rakhine, menuju kamp ini. Seringkali kami tidak makan dalam beberapa hari karena dari perjalanan menuju Bangladesh kami kehabisan makanan,” keluh ibu paruh baya yang mengaku rumahnya sudah porak poranda dibakar militer Myanmar saat itu.     

Berawal dari keterpanggilan hati  

Sudah 10 bulan lamanya, sejak eksodus ribuan pengungsi Rohingya ke Bangladesh pada Agustus 2017 lalu, Tim ACT terus menerjunkan tim medisnya untuk melayani para pengungsi Rohingya.

ACT mengirimkan tim medisnya dalam beberapa kali gelombang, bersinergi dengan tim medis lokal yang menjadi relawan ACT hingga saat ini. Puluhan relawan medis ACT yang terdiri dari para dokter, apoteker, dan perawat, setiap harinya tak kenal lelah bekerja melayani para pengungsi Rohingya.             

Menurut Suci Pri Ramadinda dari Global Humanity Response (GHR) ACT, motivasi para relawan medis lokal bergabung dengan ACT didasarkan atas rasa kemanusian mereka terhadap nasib malang para pengungsi Rohingya.         

“Motivasi mereka bergabung dengan Tim ACT pada dasarnya bukan karena materi, namun dorongan nurani mereka sendiri. Karena saya melihat mereka para dokter, apoteker, dan perawat mereka memang sudah mapan bekerja di sana,” imbuhnya.

            

Seperti pengakuan dr. Husein misalnya, saat awal eksodus pengungsi Rohingya ke negaranya di tahun 2017 lalu, ia merasa terenyuh dan ingin membantu para pengungsi Rohingya, dengan kemampuannya yaitu melalui penanganan medis. Maka, ia aktif mencari cara supaya ia bisa ikut terjun membantu para pengungsi Rohingya.         

“Melalui mitra medis ACT di Bangladesh, saya inisiatif mengajukan diri ikut bergabung dengan Tim medis ACT. Alhamdulillah, ACT mampu mewujudkan keinginan saya,” ujar dokter muda, yang mulai bergabung dengan Tim medis ACT sejak September 2017.

Dr. Husein bertekad membantu para pengungsi Rohingya dengan layanan kesehatan dan edukasi para pengungsi Rohingya. Menurutnya, para pengungsi Rohingya sangat lemah dengan pendidikan yang sangat minim.  

“Saya selalu memikirkan mereka, bagaimana mereka meningkatkan kesehatannya dari segi pendidikan mereka,” tegasnya.

Bagi dr. Husein, saat ini ACT seperti organisasinya sendiri, karena dirinya saat ini sudah merasa menjadi bagian dari ACT.

“Saya bangga bisa ikut bergabung dengan ACT, yang tidak hanya membantu warga Rohingya, namun juga warga yang lainnya yang mengalami penderitaan seperti di Palestina, Suriah, dan negara lainnya,” pungkasnya. []  

Tag

Belum ada tag sama sekali

Bagikan