Harga Kedelai Naik, Pengusaha Tempe di Kota Tangerang Terjepit

Akibat pandemi Covid-19, harga kedelai di Kota Tangerang naik menjadi Rp1 juta per kwintal. Hal ini membuat sejumlah usaha tempe rumahan di Kota Tangerang menurunkan jumlah produksi dan menaikkan harga tempe di pasar.

harga kedelai naik
Sholihin saat membuat tempe di rumah kontrakannya di bilangan Kota Tangerang. (ACTNews/M. Ubaidillah)

ACTNews, TANGERANG Sholihin pada Jumat (29/10/2021) pagi sibuk mengaduk kedelai dalam drum di rumah kontrakannya di Kelurahan Kenangan, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang. Sementara sang anak mondar-mandir memindahkan tempe di papan bambu keluar rumah. 

“Ini tempe yang dibuat kemarin, dipindahkan ke rak depan (rumah). Buat dijual besok. Tempe baru jadi sempurna setelah menginap dua hari,” kata anak Sholihin sembari memasukkan papan bambu berisi tempe ke dalam rak. 

Sholihin menceritakan, produksi tempenya saat ini dikurangi. Ini terjadi karena harga kedelai sebagai bahan baku utama tempe melonjak hingga Rp300 ribu.

“Sekarang harga kedelai di distributor Rp1 juta per kwintal. Sebelum pandemi Covid-19, harga paling mahal Rp700 ribu per kwintal. Jadi harga tempenya juga naik dan ukurannya sedikit diperkecil,” jelas Sholihin saat ditemui ACTNews, Jumat (29/10/2021).

Sholihin menceritakan, selama pandemi harga kedelai terus mengalami kenaikan. Bahkan pada Juni 2020 saat kasus Covid-19 mulai melonjak, harga kedelai dalam sehari naik tiga kali.  

“Kita jadi bingung. Pagi harganya Rp750 ribu, siang naik Rp800 ribu, sore sampai harga Rp900 ribu. Itu (terjadi) waktu awal-awal Covid-19 tahun kemarin,” kenang Sholihin. 

Sholihin melanjutkan, produsen tempe rumahan sekarang semakin sulit untuk membayar utang ke distributor. Pasalnya mayoritas pembuat tempe mengambil barang lebih dulu dan baru akan bayar saat tempe sudah terjual.