Hari Ketiga Lebaran Kurban, Gizi Penuh untuk Ribuan Pengungsi di Baidoa

Hari Ketiga Lebaran Kurban, Gizi Penuh untuk Ribuan Pengungsi di Baidoa

ACTNews, BAIDOA, Somalia - Lokasinya tidak begitu jauh dari Bandara Baidoa. Usai mendarat dan dijemput oleh mitra Global Qurban di Baidoa, mobil melaju menggilas debu yang menutupi hampir seluruh badan jalan. Keluar dari bandara kecil itu, melewati jejeran bangunan tua yang kini melompong tanpa penghuni. Kata si pengemudi mobil, bangunan tua itu peninggalan rezim Italia. Dulu, sekian dekade lalu militer Italia pernah bercokol dan menjajah Baidoa. 

Tujuan kami, Tim Global Qurban untuk Somalia mengarah ke lokasi pemotongan hewan. Tim berkejaran dengan waktu, sebab hari itu, Ahad (3/9) adalah hari ketiga lebaran kurban. Semarak lebaran memang masih terasa di Baidoa, tapi hari tasyrik tinggal menyisakan kurang dari 48 jam lagi. Padahal masih ada lebih dari 300 ekor lebih amanah hewan kurban yang harus diselesaikan, dari masyarakat Indonesia untuk Baidoa.

Mobil berbelok tajam memasuki tanah lapang yang dipagari sekelilingnya, luasnya mungkin sekira setengah lapangan bola. “Di sini kita bakal menyembelih semua sapi kurban dari Indonesia. Insya Allah, mereka yang bertugas menyembelih dan mencacah adalah para lelaki yang berasal dari kamp-kamp pengungsian di sekitar lokasi pemotongan ini,” kata Aliman Ali (44), wakil mitra ACT di Baidoa.

Waktu hampir tengah hari, seluruh proses penyembelihan hewan kurban pun bergegas dilakukan, berkejaran dengan senja dan malam, sebelum azan Maghrib datang dan gelap di seluruh wilayah Baidoa.

Menyembelih sekira 150 hewan kurban di sebuah lapangan terbuka, rupanya menjadi keseruan tersendiri. Sapi-sapi itu dikejar, semua terpontang-panting mengejar langkah sapi. Para lelaki pemimpin keluarga di kamp-kamp pengungsian itu tak segan memamerkan senyumnya yang lepas ketika si sapi lari terbirit. Mereka pun mengajak belasan anak-anak lelaki mereka untuk ikut membantu mencacah daging. Tawa mereka tulus sekali, tanda bahwa lebaran kurban memang membawa bahagia yang luar biasa di sini. Meski kemiskinan dan hidup sebagai pengungsi adalah nasib yang tidak bisa ditolak.

Satu per satu sapi yang berlarian di tanah lapang berhasil dijinakkan. Lantas tali kekangnya dipegang, lalu dituntun untuk ditidurkan. Selekas itu  sapi-sapi tumbang, tuntas disembelih dengan takbir, tahlil, dan tahmid. Menjelang sore, sekitar 150 ekor sapi berhasil disembelih. Dagingnya lalu dicacah, potongan yang disiapkan pun bukan potongan daging yang biasa.

Jangan bayangkan ukuran dagingnya kecil dan imut. Di sini di Somalia Global Qurban berikan daging untuk satu keluarga dalam porsi yang besar agar gizi daging kurban itu bisa bertahan panjang. “Misalnya satu potong paha sapi ukuran besar, bisa disimpan oleh keluarga pengungsian itu untuk gizi terbaik setidaknya sampai dua minggu berikutnya,” kata Aliman Ali menjelaskan.

Sosok Abdi, bocah lugu yang mampu mencacah seekor sapi utuh

Bertutur tentang lebaran kurban di Baidoa, adakah fragmen cerita lain yang hadir di tengah debu yang beterbangan?

Tidak melulu tentang penyembelihan dan pencacahan daging Global Qurban. Fragmen cerita itu datang dari sekumpulan bocah kecil, jumlahnya belasan. Tangan kecil mereka ikut lihai mencacah dan memotong daging-daging sapi kurban itu sampai berupa potongan-potongan. 

Siang itu, di tanah lapang tidak hanya para lelaki dewasa yang dilibatkan, namun juga belasan bocah-bocah lugu nan lihai dalam mencacah daging kurban. Mereka berasal dari kamp-kamp pengungsian yang sama. Dengan mengantongi pisau kecil di saku celananya, si bocah-bocah lugu ini cekatan menguliti dan memotong daging-daging sapi sampai tinggal bersisa tulang!

Seperti sosok Abdi misalnya, bocah dengan gigi tengah yang bolong, juga tinggi semeter lebih sedikit ini baru berusia 6 tahun. Tapi tangan kecilnya mampu menguliti sapi, membuang jeroan, memilah mana potongan daging terbaik, memisahkan tulang dan daging, sampai si sapi tinggal bersisa tulang belulang! Ajaib! Bocah lugu ini cekatan seperti sudah terbiasa, tingkahnya jauh melebihi usianya. Abdi menggambarkan satu generasi bocah Somalia yang masih punya jalan panjang untuk menemukan masa depannya.

Barisan rapi ratusan keluarga pengungsi

Jarum jam menunjukkan pukul 16.00 waktu Somalia, seluruh proses pencacahan daging selesai. Aliman Ali dan beberapa petugas keamanan mulai membuka gerbang yang melingkari lapangan. Di luar sudah berbaris berjejer ratusan perempuan-perempuan Baidoa berjilbab warna-warni.

Aliman Ali mengundang mereka dari kamp-kamp pengungsian sekitar lapangan. “Kita mulai distribusi daging kurban hari ini, satu persatu bakal berbaris memanjang, insyaAllah semua tetap tertib dan rapi,” instruksi sekaligus doa Aliman Ali kepada beberapa kawannya yang juga bagian dari mitra Global Qurban di Baidoa.

Sore itu, Ahad (3/9) daging potongan besar dimasukkan ke bungkus plastik berlabel Global Qurban. Antrean rapi ibu-ibu dari kamp pengungsian Baidoa itu tak kalah semarak. Semua merayakan lebarannya dengan tawa bahagia. Ada si ibu muda yang tampak lebih lincah, ada si ibu yang menggendong bayinya seperti punuk di punggung, ada si ibu paruh baya yang tak mau kalah memburu potongan daging pilihan. Mungkin, potongan daging sapi ini adalah gizi dari daging sapi yang pertama kali sejak setahun terakhir.

“Kita akan membuat daging direndam dalam minyak, supaya awet sampai beberapa minggu ke depan. Lalu kita masak dengan anjero (semacam makanan khas Somalia, terbuat dari tepung atau sorghum),” kata Fatima, si ibu yang sedari tadi menggendong balita perempuannya.

Tak butuh waktu lama, sebelum azan Maghrib berkumandang dari musala-musala di Baidoa, seluruh proses distribusi kurban selesai di hari Ahad itu. Esok harinya, masih ada sekira 150 ekor sapi lagi yang bakal dikurbankan untuk ratusan keluarga pengungsi lain, dari Indonesia untuk Baidoa, Somalia. []

Tag

Belum ada tag sama sekali