Hari Nakba: Tentang Perjuangan yang Tak Pernah Padam

Bagi penduduk Palestina, tidak ada jalan selain menyerukan perjuangan di hari Nakba

Hari Nakba: Tentang Perjuangan yang Tak Pernah Padam' photo

ACTNews, GAZA – Memasuki pertengahan Mei, dunia kembali diingatkan pada luka kemanusiaan. Sebab pada pertengahan Mei itu, tepatnya 15 Mei 1948 bangsa Palestina mengenal Nakba Day atau Hari Bencana. Di hari ini, ratusan ribu penduduk Palestina dipaksa meninggalkan tanah air mereka.

Puluhan tahun berlalu, namun peringatan hari bencana kian membuat luka baru. Walaupun begitu, perjuangan rakyat Palestina mempertahankan hak dan tanah air tidak pernah layu. Kisah perjuangan itu salah satunya datang dari remaja Palestina, Abdullah Qasem (17).

Abdullah harus kehilangan kedua kakinya. Ia menjalani amputasi setelah peluru militer Israel menembus bawah lutut kaki kanan hingga ke paha kirinya. Setahun lalu, ia turut dalam aksi protes Hari Nakba di Gaza.


“Saya sama sekali tidak menyesal bergabung ke dalam aksi protes. Memang, saya harus membayar harga yang sangat tinggi, namun semua orang di sini (Palestina) sudah terbiasa berkorban,” kata pengungsi asal Al Majdal–yang kini oleh Israel disebut Ashkelon–itu kepada Al Jazeera, Selasa (14/5).

Luka Hari Nakba setahun silam juga harus ditanggung Dawlat Fawzi (33) dan keluarganya. Perempuan tulang punggung keluarga itu tidak dapat lagi berkarya sebagai penata rias dan memiliki sebuah salon di Beit Hanoun. Keadaan tidak lagi memungkinkan Dawlat bekerja seperti dulu.

Tahun lalu, Dawlat turut hadir dalam protes Hari Nakba di perbatasan Gaza dengan Israel. Saat ia bergabung dengan kerumuman para demonstran, sebuah timah panas menghantam arteri utama di pahanya. Saat itu, ia pun segera dievakuasi ke rumah sakit. Setelah itu, ia pun harus tinggal di Mesir selama enam bulan untuk menjalani tujuh kali operasi.


“Ini adalah tahun-tahun terberat dalam hidup,” cerita Dawlat pada Al Jazeera. Namun, ia mengaku tidak menyesal atas keputusannya setahun lalu.

“Ini tujuan saya. Melalui protes, berbagai tuntutan dapat dicapai termasuk mengakhiri blokade Israel atas Gaza, walaupun membutuhkan waktu yang sangat lama,” aku Dawlat.

Tahun ini, sebagaimana diberitakan The Jerusalem Post, Hari Nakba diperingati warga Palestina pada hari Rabu dengan kembali menggelar unjuk rasa di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Unjuk rasa kali ini, warga Palestina menegaskan gugatan atas “Perjanjian Abad ini”.[]

Bagikan

Terpopuler