Hari Tasyrik Terakhir untuk Baidoa, Ribuan Simpul Senyum di Kamp Abu Asyara

Hari Tasyrik Terakhir untuk Baidoa, Ribuan Simpul Senyum di Kamp Abu Asyara

ACTNews, BAIDOA, Somalia - Azan subuh memanggil dari musala kecil di sebelah penginapan. Samar terdengar dari kejauhan musala dan masjid lain pun menggemakan azan yang serentak. Subuh di Baidoa, ibu kota dari Bay Region, Somalia berlangsung hampir serupa dengan subuh di kota-kota lain di Indonesia, sunyi tapi semarak dengan azan subuh bersahutan. Hari itu, Senin (4/9) hari tasyrik terakhir, Tim Implementasi Global Qurban 2017 untuk Somalia masih di Baidoa, sebuah kota terpencil, penuh debu, juga hampir nihil air bersih. Di atas peta, Baidoa berjarak sejauh 250 kilometer di sebelah utara Mogadishu.

Sudah sejak sehari sebelumnya, sekira 150 ekor sapi kurban untuk ribuan pengungsi di Baidoa tuntas terdistribusikan. Tapi itu belum cukup. Untuk Baidoa, Global Qurban sudah menyiapkan lebih kurang 300 ekor sapi. Artinya, di hari tasyrik terakhir masih ada sekira 150 ekor sapi lagi yang bakal disembelih dan dibawa untuk keluarga-keluarga paling membutuhkan. Amanah kurban dari masyarakat Indonesia dibawa jauh sampai ke Baidoa.

Kurban untuk Baidoa selalu memberi ribuan fragmen cerita yang sulit untuk dikumpulkan dan dikisahkan ulang satu per satu. Setiap senyum, tawa, kehangatan, persahabatan, bahkan tangis, sedih, dan pilu yang tergores di wajah-wajah masyarakat Baidoa punya ruang ceritanya masing-masing. Karena, Baidoa hari ini adalah sebuah kota tak begitu besar yang dihuni oleh ribuan bahkan puluhan ribu keluarga pengungsi. Belum ada yang bisa menghitung berapa jumlah pastinya, sebab arus pengungsi yang keluar dan masuk Baidoa selalu berubah sepanjang hari.

Baidoa adalah gambaran tentang arus pengungsian yang demikian besar. Mereka menetap lalu tinggal untuk sementara waktu, meski tak pernah ada yang bisa menerka kapan “sementara waktu” itu akan berakhir.

Puluhan ribu jiwa pengungsi yang menetap di Baidoa sebagian besarnya adalah pengungsi yang dipulangkan kembali ke tanah airnya (repatriasi) dari Kamp Dadaab di Kenya. Dulu, selama konflik menghantam Somalia, ratusan ribu keluarga melarikan diri dan mengungsi ke Kamp Dadaab di Kenya, kini Kamp Dadaab sudah ditutup total, sebagian besar dari pengungsi itu direpatriasi, kembali ke Baidoa juga Mogadishu.

Sementara itu, ribuan pengungsi lain, juga datang ke Baidoa untuk alasan mencari air, menemukan sedikit harapan hidup dari antrean air bersih yang selalu mengular setiap pagi di tangki-tangki air bersih di tengah Kota Baidoa. Karena alasan itu, Baidoa selalu punya potongan cerita yang spesial.

Untuk yang kesekian kalinya, Global Qurban kembali lagi ke Baidoa. Jika di hari tasyrik ketiga Ahad (3/9), Global Qurban membawa potongan-potongan daging kurban itu ke kamp tak begitu jauh dari Bandar Udara Baidoa, maka di hari tasyrik terakhir Senin lalu (4/9) Global Qurban membawa lebih jauh potongan daging kurban itu. Global Qurban menyapa ribuan keluarga pengungsi lebih jauh di area pinggiran Baidoa.

Global Qurban bergerak menuju ke Kamp Abu Asyara, sebuah kamp dengan kepadatan yang luar biasa. Hanya ada dua hal di kamp ini, debu dan perut mereka yang lapar.

Tetapi, tetap ada ribuan tawa di Kamp Abu Asyara

Beranjak dari lokasi pemotongan di tanah lapang tengah kota Baidoa, Tim Implementasi Global Qurban 2017 bergegas menuju Kamp Abu Asyara. Jarum jam menunjukkan pukul 13.00 waktu Baidoa, artinya tinggal hitungan jam lagi, hari tasyrik akan berakhir. Hari itu, Senin (4/9) seluruh daging kurban yang telah disembelih dan dicacah sejak pagi sekali sudah disiapkan di atas truk.

Perjalanan dimulai, melaju sekitar 30 menit dari tengah kota Baidoa. Melewati jalur kota yang kumuh, berdebu, dan jalan yang hancur di kanan-kiri. Di sebuah pertigaan, mobil truk berbelok ke kanan masuk ke jalan lebih kecil, aspal berubah jadi jalur berdebu seutuhnya.

“Masyarakat Baidoa menyebut kamp ini dengan nama Abu Asyara, sesuai nama wilayahnya. Kamp ini adalah rumah bagi ribuan keluarga eks Kamp Dadaab bermukim,” kata Aliman Ali (44) wakil mitra Global Qurban di Baidoa.

Makin jauh masuk ke dalam, jalur yang ada makin berdebu, serupa gurun pasir. Memandang jauh ke sekitar, hanya ada tanah debu dan deretan kamp-kamp pengungsian yang bertumpuk dan berdesakan.

Apalagi itu tengah hari waktu Baidoa, suhu yang terbaca di gawai menunjukkan sekira 36-37 derajat celcius. Tak sampai terbayang bagaimana rasanya berlindung di balik tenda-tenda pengungsian berbahan dasar kain compang-camping dengan fondasi ranting pohon itu.

Sampai tiba di tanah lapang luas di tengah-tengah area kamp pengungsian Abu Asyara. Mitra Global Qurban di Baidoa segera menyusun barisan, ratusan keluarga pengungsi dibariskan rapi. Laki-laki dan perempuan dipisahkan dalam barisan yang berbeda. Barisan mereka dibuat sembari duduk di atas tanah pasir. Teratur dan rapi tanpa ada ego untuk mendahului giliran satu sama lain.

Satu per satu daging kurban yang sudah dibungkus dalam kantong Global Qurban diberikan untuk setiap keluarga.

Seusai itu, yang ada hanya ada simpul tawa yang menular luas. Tawa yang menular dan kehangatan dari keluarga-keluarga pengungsi di Abu Asyara. Lelaki dan perempuan sama saja, mereka sama-sama menularkan tawa bahagia yang sama. Siang itu, meski panas terik menantang dan debu yang beterbangan menusuk hidung, tapi tawa keluarga pengungsi di Abu Asyara membuat teduh hati.

Ucapan terima kasih bersahutan dalam bahasa Somali, “Mahadsanid Indonesia, Mahadsanid ya Allah, Alhamdulillah,” ucap kompak belasan perempuan-perempuan Somalia dalam barisan. Sejam lebih bersama keluarga pengungsi di Abu Asyara tak terasa, azan Asar menandai berakhirnya hari tasyrik terakhir.

Simpul senyum dan kehangatan Kamp Abu Asyara menjadi penutup cerita implementasi Global Qurban tahun 2017 untuk Somalia. Mahadsanid Baidoa. Mahadsanid Indonesia. []

Tag

Belum ada tag sama sekali