Hasil Melaut Tak Menentu, Ekonomi Isa Semakin Terpuruk

Semakin hari kondisi ekonomi Muhammad Isa seorang nelayan di Serang, semakin terpuruk. Kondisi alam yang sudah tidak bisa diprediksi dan penggunaan alat tangkap ikan yang merusak ekosistem laut merupakan faktor utama hasil tangkapannya tidak menentu.

muhammad isa
Muhammad Isa saat ditemui ACTNews di rumahnya. (ACTNews)

ACTNews, KABUPATEN SERANG – Puluhan tahun sudah Muhammad Isa (73) menekuni pekerjaan sebagai nelayan. Namun ekonominya semakin hari semakin memburuk. Keadaan alam dan teknologi alat tangkap ikan membuat hasil tangkapannya terus berkurang.

Periode 90-an hasil tangkapannya bagus. Padahal perahu yang ia gunakan masih tradisional menggunakan dayung yang berlayar empat kilometer di laut dan alat tangkap ikan masih sama seperti yang digunakan saat ini yakni pancing. 

Isa menceritakan, jarak tempuh mempengaruhi hasil tangkapan. Jika 30 tahun lalu ia menggunakan perahu dayung ia bisa mendapat banyak ikan dalam jarak empat kilometer. Saat ini, menggunakan perahu motor ia harus menempuh jarak 14 kilometer untuk bisa mendapatkan ikan.

Menurut Isa, salah satu faktor yang mempengaruhi ikan makin langka adalah alam. Kondisi alam dan cuaca yang tidak menentu, membuat nelayan kesulitan memprediksi gelombang laut dan adanya ikan di lautan. Jika musim kemarau, laut cukup tenang dan ikan juga banyak ke pinggir. 

“Sekarang susah, ini (Agustus) seharusnya sudah musim kemarau, tapi masih hujan. Nanti kalau masuk musim hujan, tapi belum juga hujan. Kalau arusnya tenang, airnya keruh itu prediksi banyak ikan di bawah. Ini arusnya tenang atau enggak keruh terus airnya, jadi sulit,” kata Isa saat diwawancarai ACTNews di rumahnya, Desa Cinangka, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Ahad (22/8/2021). 

Faktor lain yang membuat nelayan tradisional kesulitan mendapat ikan adalah penggunaan alat tangkap ikan yang lebih modern dan merusak ekosistem laut. Menurut Isa, dulu di laut tempatnya mencari ikan belum ada nelayan yang menggunakan cantrang. Saat ini banyak nelayan dari daerah lain mencari ikan menggunakan cantrang. 

“Padahal sudah dilarang, tapi tetap ada aja yang pakai. Padahal itu merusak, ikan-ikan kecil kena semua. Habislah ikan dan rusak lautnya. Kita nelayan kecil dapat ikan sisa yang enggak ketangkap saja,” kata Isa. 

Dalam seminggu, Isa bisa tiga hari tidak mendapat ikan ketika melaut. Jika dapat pun jumlahnya tidak banyak. Paling banyak tujuh hingga 10 kilo. Untuk memenuhi kebutuhan, Isa menanam singkong untuk dijual. 

“Dulu (hasil tangkapan) satu perahu kecil itu bisa penuh. Sekarang buat ongkos saja sering tidak balik, bensin itu Rp100 ribu karena jarak ke laut sekitar 14 kilometer. Kalau di pinggir enggak ada apa-apa. Buta tambah-tambah saya menanam singkong,” pungkas Isa. 

Isa berharap, nelayan-nelayan kecil mendapat bantuan rutin dari pihak-pihak yang bertanggung jawab dan menertibkan alat tangkap yang dapat merusak lingkungan.[]