Heppy Trenggono: Pengusaha Harus Bisa Membantu Orang Lain

Menurut pengusaha Heppy Trenggono, menjadi pengusaha adalah soal karakter. Pengusaha harus menyadari bahwa dirinya bisa bermanfaat untuk orang lain.

Heppy Trenggono menyampaikan pengalamannya sebagai pengusaha dalam acara Diskusi Kebangsaan bertajuk “Wakaf, Energi Kedaulatan Pangan Bangsa”, Kamis (29/10). (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, JAKARTA SELATAN – Menjadi pengusaha adalah persoalan karakter. Hal itu diyakini pengusaha Heppy Trenggono. Ketika ditemui ACTNews usai diskusi kebangsaan bertajuk “Wakaf, Energi Kedaulatan Pangan Bangsa” akhir November lalu, Heppy mengatakan, karakter pengusaha adalah bisa menghadapi situasi apa pun.

“Pengusaha itu persoalan mentalitas, dia bisa menghadapi situasi apa pun. Menghadapi situasi sulit seperti sekarang (pandemi Covid-19), dituntut sebuah kesabaran, keyakinan, kerja keras, dan kreativitas,” kata Heppy.

Di satu sisi, Heppy juga senang mengetahui banyak program bantuan untuk pengusaha mikro dan menengah yang terdampak Covid-19. Di sisi lain, Heppy juga mengingatkan para pengusaha untuk punya mentalitas memberi. Menurut Heppy,  seorang pengusaha harus memahami bahwa dia bisa membantu, bukan sekadar memberi bantuan.


Mak Boh, salah satu penerima manfaat Wakaf modal usaha Mikro Global Wakaf-ACT. (ACTNews/Reza Mardhani)

Mentalitas pantang menyerah itu juga ditemui ACTNews pada sejumlah penerima Wakaf Modal usaha Mikro. Mak Boh salah satunya, penjual Dimsum Cemimiw, yang menjadi penerima manfaat program Wakaf Modal Usaha Mikro dari Global Wakaf-ACT.

Setelah pandemi, bisnis kuliner Mak Boh kembali berjalan. Ia bahkan berbagi kepada pembeli dengan memberi diskon setiap Jumat. Potongan harga yang Mak Boh berikan kepada pembeli setiap Jumat ia anggap sebagai salah satu bagian dari zakat. “Kita kalau dipotong 2,5 persen suka enggak kepikiran (ingat). Disalurkannya di situ (potongan harga) saja, namanya Jumat Berkah. Mau yang pakai mobil, mau yang jalan kaki, pokoknya ada potongan harga,” jelas Mak Boh saat ditemui ACTNews, Rabu (1/12).

Ada juga Sutiyasih, pemilik usaha kelontong di Jagakarsa. Sempat ambruk terdampak pandemi, kini warga Jagakarsa, Jakarta Selatan, itu bisa memiliki omzet Rp91 juta per bulan. “Alhamdulillah, waktu pandemi itu, dapat dukungan modal selama tiga bulan, lumayan, buat buka warung. Sekarang, Global Wakaf-ACT lanjut memberi pendampingan,” katanya.[]