Hidangan Iftar Bernutrisi Kuatkan Pengungsi Internal Yaman di Kota Amran

Krisis pangan yang menimpa para pengungsi Yaman membuat mereka kesulitan untuk mendapat makanan, termasuk untuk berbuka puasa. Bantuan hidangan iftar yang bernutrisi pun diberikan dermawan ke para pengungsi internal di kamp pengungsian Al Tahsen di Amran.

bantuan iftar yaman
Salah satu anak pengungsi Yaman menerima bantuan iftar dari tim ACT. (ACTNews)

ACTNews, AMRAN – Tangan kecil dan kurus dari salah satu anak pengunsi Yaman di kamp pengungsian Al-Tahsen di Kota Amran, nampak erat saat menggenggam makanan dan minuman yang diberikan untuk mereka. Tubuh kurus yang ditutupi dengan baju kotor dan lusuh tersebut, akhirnya dapat menerima asupan makanan yang bernutrisi.

Pada Senin (25/4/2022), para pengungsi memang tengah berceria karena kedatangan tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang tengah mendistribusikan bantuan paket iftar. 800 paket berisi seporsi nasi dan daging, kurma, dan buah tersebut didistribusikan tim ACT ke tenda-tenda para pengungsi.

Firdaus Guritno dari tim Global Humanity Network ACT menjelaskan, dengan bantuan ini diharapkan mampu mengenyangkan dan memberi dampak positif ke kesehatan tubuh para pengungsi.

"Iftar yang dibagikan adalah makanan segar yang mengandung nutrisi tinggi. Insyaallah, akan menyehatkan para pengungsi yang selama ini mengalami permasalahan kesehatan akibat kekurangan makanan yang cukup dan bergizi," ujar Firdaus, Rabu (27/4/2022).

Kerawanan pangan memang tengah menimpa para pengungsi hampir di seluruh kamp pengungsian di Yaman. Menurut Program Pangan Dunia PBB (WFP), 13 juta orang di Yaman tengah mengalami kelaparan imbas konflik berkepanjangan dan kurangnya bantuan kemanusiaan dari masyarakat internasional.

Terlebih di bulan Ramadan, kesulitan untuk mendapatkan makanan makin meningkat seiring naiknya semua harga bahan pokok dan kebutuhan lainnya. WFP bahkan memperingatkan bahwa kerawanan pangan di Yaman berpotensi meningkat 5 juta kasus pada tahun 2022. Hal ini merupakan imbas masih berlanjutnya perang saudara di negeri tersebut.

Sementara itu, berdasarkan laporan UNICEF, konflik sangat berdampak pada kesehatan dan gizi anak-anak di Yaman. Diperkirakan, sebanyak 2,3 juta anak-anak di Yaman mengalami kekurangan gizi akut. Hal ini pun diperparah karena nilai mata uang Yaman–Rial kian anjlok, membuat harga pangan dan obat-obat menjadi sangat mahal dan sulit dijangkau. []