Hidup Dirundung Blokade, Keluarga Said Mosaed Berharap dari Kedermawanan

Berada di wilayah krisis, membuat keluarga Said Mosaed Almalalha hidup kesulitan. Akses pangan, air, rumah, dan kesehatan tidak bisa didapat dan hanya bisa berharap uluran tangan para dermawan.

Ilustrasi: Wajah anak-anak Palestina
Ilustrasi. Banyak keluarga Palestina di Gaza hidup dalam kondisi prasejahtera. (ACTNews)

ACTNews, GAZA – Blokade dan serangan zionis Israel membuat warga Palestina hidup dalam keadaan memprihatinkan. Banyak pengungsi internal hidup di kamp pengungsian dalam kondisi krisis, salah satunya di Nusrat, Gaza. Krisis yang terjadi diantaranya rawan pangan, tidak ada listrik, pengangguran, dan air tercemar. Said Mosaed Almalalha bersama keluarganya turut mengalami kondisi itu.

Ayah Said tidak memiliki pekerjaan. Tidak ada pemasukan keuangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di keluarga itu. Bahkan, saat ayahnya menderita patah tulang dan lutut seperti saat ini, keluarganya tidak punya biaya berobat. 

Saat ini, Said bersama lima orang anggota keluarga menempati rumah yang tidak layak. Hanya ada satu ruangan berdinding terpal lusuh untuk melindungi mereka dari cuaca ekstrem. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Said dan keluarga mengharapkan kedermawanan orang lain.


Setiap bulan, rata-rata Said dan keluarga membutuhkan biaya setara Rp 4-5 juta rupiah untuk memenuhi kebutuhan makanan, pakaian, tempat tinggal, dan pendidikan untuk anak-anak. 

Untuk mengeluarkan keluarga Said dari jurang kemiskinan, para dermawan Indonesia bisa mengulurkan tangan melalui program Sister Family Palestina-Indonesia. Andi Noor Faradiba selaku Senior Manager Global Humanity Response-ACT mengatakan, Sister Family Palestina-Indonesia bukan sekedar membantu jarak jauh, namun membangun persaudaran dan menyatukan dua keluarga. 

“Insyaallah, ACT akan memfasilitasi interaksi duka keluarga melalui bisa video call atau WhatsApp, sehingga kedua keluarga bisa saling mengenal. Program ini memang sangat bersifat pengikatan emosional. Kita sandingkan memang keluarga ke keluarga,” jelas Faradiba.[]