Hidup Ustaz Didin, Dai juga Petugas Kebersihan dan Pengumpul Barang Bekas

“Secara matematis manusia, bisyaroh menjadi guru mengaji tidak cukup. Tetapi perhitungan Allah cukup, bahkan berlebih,” kata Ustaz Didin di Cirebon yang mengajar mengaji juga menjadi petugas kebersihan dan pencari barang bekas.

ustaz didin cirebon
Ustaz Didin saat sedang membereskan barang-barang bekas yang sudah dikumpulkan. (ACTNews/M. Ubaidillah)

ACTNews, CIREBON – Mencari barang-barang bekas menjadi aktivitas sehari-hari Ustaz Didin Sahdiya. Bersama mertuanya, mulai pukul 06.00 sampai 09.00 WIB, Didin berkeliling menarik gerobak dan mengambil sampah dari rumah ke rumah di Desa Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon. 

Usai menjadi petugas kebersihan di pagi hari, bakda maghrib, Ustaz Didin mengajar mengaji. Jarak antara rumah dengan tempatnya mengajar sekitar 3,7 kilometer ditempuh selama 13 menit menggunakan sepeda. 

Dari aktivitasnya menjadi petugas kebersihan, Ustaz Didin mendapat upah Rp350 ribu per bulan. Sementara dari mencari barang-barang bekas penghasilannya tak menentu, sekitar Rp200 sampai Rp250 ribu per bulan. “Kalau mengajar ngaji, bisyaroh-nya Rp400 ribu per bulan,” ujar bapak tiga anak ini, Selasa (13/10/2021). 

Ustaz Didin mengungkapkan, jika dihitung dengan akal manusia, penghasilan per bulan tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Di mana uang kurang dari Rp1 juta digunakan untuk membayar listrik, makan lima anggota keluarga, sekolah anak, dan belanja kebutuhan anak yang masih balita. 

“Namun, perhitungan Allah itu cukup, bahkan berlebih. Asalnya dari mana? Saya juga enggak tahu. Selama ini belum pernah sampai tidak bisa makan,” ujarnya kepada ACTNews.

Ustaz DIdin saat diwawancarai ACTNews. (ACTNews/M. Ubaidillah)

Menurut Ustaz Didin, niat mengajar semata-mata ibadah. Harapannya agar generasi muslim yang akan datang memiliki akhlak yang baik. Hal ini akan terwujud jika niat para guru yang mengajarkannya sudah benar. 

“Keinginan saya agar anak-anak bisa mengaji lalu mengamalkannya. Jangan sampai musala sepi, ditinggalkan karena penerusnya tidak bisa ngaji. Jadi anak-anak ke musala, meski ngajinya sedikit, banyak main, jangan dimarahi, apalagi diusir. Namanya juga anak-anak,” ungkapnya.[]