Hidupnya Suasana Masjid Nur Solihin di ICS Lombok

Hidupnya Suasana Masjid Nur Solihin di ICS Lombok

ACTNews, LOMBOK UTARA – Matahari mulai tenggelam dalam horizon. Azan Magrib masih bergema dari pengeras suara. Warga satu per satu mulai berdatangan, merapatkan diri dalam saf-saf bersama jemaah lainnya. Selepas senja, kebiasaan itu menjadi pemandangan rutin di Masjid Nur Solihin, Kompleks Hunian Terpadu (Integrated Community Shelter/ICS) ACT di Gondang, Kecamatan Gangga, Lombok Utara.

Masjid tidak lantas sepi usai salat Magrib ditunaikan. Sebagian jemaah dewasa memang bergegas meninggalkan masjid, tetapi tidak bagi jemaah anak-anak. Mereka tetap di tempat, menunggu waktu Isya dengan mengaji. Begitu pula Rifai dan tujuh orang lainnya yang mengabdikan diri sebagai guru mengaji.

“Sekarang setiap habis magrib ada pengajian anak-anak. Banyak sekali mereka, 150-an orang,” cerita Ahmad Rifai (46), Penanggung Jawab Pengelola Masjid Nur Solihin ICS Gondang, Selasa (16/10).

Setiap malam memang diselenggarakan pengajian untuk anak-anak. Bukan hanya mereka yang tinggal di ICS, tetapi juga anak-anak yang tinggal di sekitaran ICS turut ikut mengaji. “Ada delapan orang warga ICS yang menjadi guru ngaji. Menurut kami jumlah guru yang mengajar masih kurang,” lanjutnya.

Rifai menceritakan, usai gempa besar mengguncang Lombok dua bulan lalu, kini kehidupan masyarakat Lombok perlahan mulai membaik. Sebagian masyarakat mulai kembali bekerja. Warga, khususnya mereka yang tinggal di ICS, juga rutin menyelenggarakan kegiatan bersama. “Setiap malam Jumat, warga ada mengaji dan doa bersama di masjid,” tutur Rifai.

Bagi masyarakat Lombok, masjid menjadi bagian yang penting dari kehidupan mereka. Begitu pula bagi warga terdampak gempa Lombok yang kini tinggal di ICS, termasuk Rifai. “Masjid itu sangat sangat penting. Tempat silaturahmi warga. Pengumuman (disiarkan) di masjid. Ada kegiatan apa-apa dari warga, ya di masjid, bahkan kemarin posyandu di masjid,” ungkap Rifai.

Kegiatan warga ICS yang mulai pulih tidak hanya tampak dari makmurnya kegiatan di masjid. Rifai juga mengabarkan, bagunan sekolah darurat di ICS juga sudah digunakan untuk belajar mengajar siswa taman kanak-kanak. “Iya, sekolah sudah mulai dipakai, untuk TK. Gabungan dari beberapa TK di sekitaran ICS,” ucapnya. Selain Masjid Nur Solihin dan sekolah di ICS Gondang, ACT turut membangun 16 masjid dan 10 sekolah lainnya di beberapa kabupaten di Lombok. 

Masyarakat Lombok mungkin tidak akan pernah melupakan kejadian Jumat (28/7) dan Ahad (5/8) kala itu. Namun, trauma dan rasa kehilangan bukanlah alasan untuk tidak bergerak maju. Mereka perlahan bangkit, kembali menghidupkan Lombok sebagai Bumi Seribu Masjid. []