Hilangnya Sumber Air dari Irigasi Gumbasa

Likuefaksi yang melanda Sigi September 2018 lalu hingga kini masih membawa dampak ke warga sekitar. Salah satunya di Desa Maranata yang sekarang kehilangan sumber air utama setelah irigasi Gumbasa hancur tergulung likuefaksi.

Hilangnya Sumber Air dari Irigasi Gumbasa' photo

ACTNews, SIGI  Gempa yang memicu fenomena likuefaksi di beberapa titik di Palu dan Sigi, Sulawesi Tengah September 2018 lalu, hingga kini masih berdampak pada masyarakat di sekitarnya. Seperti yang dirasakan warga di Desa Maranata, Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi. Sejak September lalu hingga kini, mereka kesulitan mendapatkan sumber air untuk kebutuhan sehari-hari.

Noho, warga Dusun Lompio, Desa Maranata mengatakan, warga di desanya mengalami krisis air sejak gempa besar terjadi. Kondisi tersebut disebabkan likuefaksi yang memutus irigasi Gumbasa. Setidaknya 95 kepala keluarga di Lompio sulit mendapatkan air. “Setiap harinya kami harus berjalan kaki satu kilometer untuk mendapatkan air dari sumber terdekat,” jelas Noho, Rabu (31/7).

Di lokasi pengambilan air yang jaraknya satu kilometer dari permukiman itu, air yang keluar pun tak banyak. Selain itu, warga juga harus mengantre sebab banyaknya warga lain yang membutuhkan air dari sumber yang sama. Air ini berasal dari sumur milik warga yang masih mengeluarkan air.

Menurut Noho, selama ini warga Dusun Lompio mengantungkan hidup dari irigasi Gumbasa. Mereka menggunakan air irigasi itu untuk mandi, mencuci, hingga konsumsi. Selain itu, lahan pertanian warga juga mengandalkan irigasi yang sekarang telah hancur akibat likuefaksi.

Sebelumnya semua kebutuhan air warga dari irigasi Gumbasa. Kebetulan jalur irigasi ini melewati dusun kami. Jadi mudah mengambil air untuk kebutuhan sehari-hari dan tidak harus berjalan kaki hingga satu kilometer,” kenang Noho.


Dari Pantuan Tim ACT di lokasi, puluhan hektare lahan pertanian di wilayah itu juga mengalami kekeringan. Tampak persawahan hanya ditumbuhi rumput dan tak terurus.

Di Rabu itu juga, Aksi Cepat Tanggap (ACT) Sulawesi Tengah mengirimkan 6 ribu liter air bersih. Air itu didistribusikan di Kompleks Gereja Bala Keselamatan Korps Lompio. Puluhan warga langsung mengantre untuk mendapatkan air bersih yang dialirkan langsung dari truk tangki. Selain untuk warga, air bersih ditampung untuk kebutuhan di gereja setempat.

Nirmo, Pendeta Gereja Lompio, mengaku air sangat dibutuhkan warga serta jemaat gereja dan tempat ibadah lain di sekitar. Selain banyak bangunan yang rusak di Lompio, aliran air dari sumbernya juga mengalami kerusakan parah. “Saya sangat senang dengan adanya distribusi air dari ACT ini, tak pandang siapa penerima manfaatnya. Semoga semua orang dapat terbantu dengan adanya air ini,” ungkapnya.

Kepala ACT Sulawesi Tengah Nurmarjani Loulembah mengatakan, selama sebulan ini ACT Sulteng mendistribusikan air bersih kepada korban bencana, khususnya warga yang tinggal di hunian sementara maupun warga yang mengantungkan hidupnya dari saluran irigasi Gumbasa. Bantuan air bersih ini diharapkan dapat benar-benar tepat sasaran seperti warga yang tinggal di Dusun Lompio yang kesulitan air bersih sejak gempa mengguncang. “Pendistribusian air ini bermitra dengan Muslim Volunteer Malaysia,” katanya[]

Bagikan