Hindari Air Payau, Warga Muara Gembong Manfaatkan Sumur Wakaf

Lingkungan dan kondisi ekonomi yang kurang mendukung, berdampak kepada warga Kecamatan Muara Gembong di banyak hal. Termasuk pada sanitasi mereka yang kurang bersih.

Hindari Air Payau, Warga Muara Gembong Manfaatkan Sumur Wakaf' photo

ACTNews, BEKASI - Sebuah Sumur Wakaf di daerah pesisir Kampung Beting di Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi telah selesai dibangun. Kini warga Kampung Beting lebih mudah untuk mendapatkan air tawar. Sebelumnya, warga hanya bisa memanfaatkan air payau untuk kebutuhan sehari-hari.

“Mereka sumbernya ada dari sungai kecil dan sumur di rumah masing-masing. Tapi karena dekat pantai, rasa airnya jadi payau. Dan air payau itu dipakai saja karena kalau bangun sumur, mesti sumur dalam, pakai bor. Sementara kalau bangun sumur bor itu relatif cukup mahal untuk masyarakat,” kata kata Wahyu Nur Alim dari tim Global Wakaf, Kamis (5/9).

Selain itu kata Wahyu, sanitasi yang sebelumnya digunakan oleh warga juga tidak bisa dikatakan layak. Lingkungan tempat mereka tinggal juga jadi tantangan tersendiri buat mereka. Wahyu bahkan mengatakan di daerah pinggir pantai tersebut, sempat terjadi abrasi yang menghilangkan tiga desa mereka.

Dilansir dari Kompas.com pada 16 Juni lalu, memang abrasi sempat menghilangkan 50 rumah di desa tersebut. Belum lagi banjir rob yang kerap datang pada November hingga Januari.


Kampung Beting pun sempat menjadi daerah yang terkena tumpahan kebocoran pipa minyak dari sebuah perusahaan pada 12 Juli silam. Tumpahan minyak yang mencemari pantai kini membuat penghasilan mereka berkurang. Laporan CNN Indonesia mengatakan, akibat  ikan yang bau limbah, penghasilan mereka kini paling banyak hanya Rp 200 – 500 ribu sehari. Angka ini turun 10 kali lipat sebelum petaka itu datang.

Dari turunnya penghasilan mereka, Wahyu mengatakan masyarakat banyak yang kini beralih profesi. Dari yang tadinya nelayan, kini kebanyakan warga memilih untuk bekerja menjadi pembersih pantai dari tumpahan minyak.

“Hampir sebagian besar warga di sana, khususnya yang pria, diminta kerja untuk membersihkan minyak-minyak di pantai dengan bayaran Rp 100 ribu per hari. Untuk itu, yang tadinya jadi nelayan, sekarang beralih profesi sementara waktu jadi tukang bersih-bersih pantai,” ujar Wahyu.

Dengan kondisi lingkungan yang sedemikian kurang bersahabat dan ekonomi yang juga sedang sulit, Global Wakaf berusaha membantu mereka dari segi sanitasi. Selain sumur bor dan MCK yang telah selesai dibangun, Global Wakaf akan membangun kembali dua titik Sumur Wakaf di daerah itu.

“Yang sudah selesai dibangun, airnya sudah bisa digunakan. Tinggal pemasangan plafon saja. Rencananya kita akan membangun 2 titik lagi yang tanpa MCK. Karena harapan kita di kondisi serba sulit seperti ini, mereka tidak perlu lagi berpikir mesti dapat air bersih dari mana,” harap Wahyu. Ke depannya juga Wahyu berharap, kehadiran Sumur Wakaf bisa menjadi solusi jangka panjang dari kesulitan air yang melanda Desa Pantai Bahagia. []

Bagikan