Hingga Malam, Relawan Medis ACT Layani Korban Gempa Lombok

Hingga Malam, Relawan Medis ACT Layani Korban Gempa Lombok

ACTNews, LOMBOK TIMUR - Pasca gempa yang mengguncang Lombok, ada duka yang dirasakan oleh ribuan korban terdampak. Ada juga ketakutan mendalam yang membalut diri mereka, takut kalau gempa susulan kembali datang. Semua berkelindan menjadi satu. Tak sedikit jumlah rumah yang hancur dan porak-poranda, korban jiwa belasan orang, ditambah korban terluka yang terus bertambah jumlahnya.

Hingga kemarin, Senin (30/7), Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengumumkan bahwa, jumlah korban meninggal bertambah menjadi 16 jiwa, 11 orang dari Lombok Timur, 4 orang dari Lombok Utara, dan 1 orang meninggal di Gunung Rinjani.

Sementara itu ratusan korban yang mengalami luka-luka kini terpaksa harus terbaring di posko-posko pengungsian. Senin (30/7) malam, relawan medis Aksi Cepat Tanggap pun diterjunkan ke lokasi, mengingat masih banyak korban terdampak yang membutuhkan pertolongan, terutama perihal medis. 

Salah satu yang mendapat layanan medis dari ACT adalah posko pengungsian yang terletak di Desa Sajang, Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Pemerintah setempat memang menghimbau warganya untuk tetap berada di posko pengungsian, sebab khawatir akan terjadinya gempa susulan.

 

“Belasan warga berhasil kami berikan penanganan. Sebagian besar keluhan mereka ya karena luka akibat tertimpa bangunan, ada juga yang mengeluh demam, pusing, nyeri, hingga maag dan batuk-pilek,” ujar Meita Religia Putri, salah satu dokter yang tergabung dalam Relawan Medis ACT.

Tercatat dari laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, (BMKG) telah terjadi dua kali gempa susulan dengan guncangan yang cukup besar. Dua gempa itu antara lain, terjadi tepat pada malam ketika tim ACT melakukan aksi medis, yaitu Senin (30/7) pukul 20:34 dengan amplitudo 5,3 SR. Sedang gempa selanjutnya terjadi subuh tadi, Selasa (31/7) pukul 04:44 dengan amplitudo 5,0 SR.

Kusmayadi, Koordinator Emergency Response yang memimpin langsung aksi di posko pengungsian Desa Sajang memaparkan bahwa, timnya tidak boleh berdiam diri. “Masih banyak pengungsi yang membutuhkan pertolongan kita, sebab itu saya arahkan tim medis untuk terus bergeliat melayani korban terdampak. Bahkan hinga malam hari,” ujarnya, Senin (30/7) malam.

Selain itu, kata Kusmayadi, Tim Disaster Emergency & Relief Management (DERM) bersama Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) NTB juga terus melakukan pendalaman data terkait korban jiwa maupun luka-luka, serta kerusakan hingga kebutuhan mendesak yang dibutuhkan oleh para korban gempa di posko-posko pengungsian.

Sampai Senin (30/7) malam, kerusakan rumah kategori berat paling banyak ada di Desa Belanting dan Desa Obel-Obel Kecamatan Sambelia, Lombok Timur. “Di Desa Belanting, rumah rusak berat 170 unit. Di desa Obel-Obel, rumah rusak berat mencapai 144 unit,” papar Kusmayadi. []

Tag

Belum ada tag sama sekali