Hulu ke Hilir Manfaat Program Masyarakat Produsen Pangan Indonesia di Cibadak

Semenjak Maret lalu, program Masyarakat Produsen Pangan Indonesia telah membawa maslahat bagi sekitar 60 petani di Desa Cibadak, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor. Tidak hanya mendampingi sejak penanaman, Global Wakaf - ACT juga membantu para petani dengan penjualan hasil panennya.

Hulu ke Hilir Manfaat Program Masyarakat Produsen Pangan Indonesia di Cibadak' photo
Seorang petani memperlihatkan segenggam beras yang telah siap kemas. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, BOGOR – Mulai Maret lalu, sebagian petani di Desa Cibadak, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, bisa merasakan manfaat program Masyarakat Produsen Pangan Indonesia. Sebelumnya, neberapa petani memang mengeluhkan modal tanam yang tinggi. Hal ini diungkapkan oleh Cahyadi salah seorang petani.

“Luasnya (lahan saya) kira-kira 4.000 meter. Alhamdulillah sedikit kebantu buat beli pupuk. Kebanyakan memang permasalahannya modal, kalau 4.000 meter kan kira-kira modalnya Rp5 juta. Itu tadi kerja mengemas beras, untuk tambahan,” ungkapnya.

Hal itu diakui pula oleh Hendrik selaku Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Subur Hasil Tani. “Jadi ada modal untuk membeli pupuk dan obat-obatan, beli bibit, dan biaya pengolahan lahan. Otomatis kan mereka sudah punya modal, dengan itu mereka mengusahakan bagaimana nantinya bisa tanam dengan modal tersebut, dan bagaimana bisa panen tanpa dan bunga. Jadi terbantu seperti itu. Berbeda dengan pinjaman-pinjaman yang lain, kalau ini tanpa bunga sepeser pun,” ucapnya pada Kamis (12/11) lalu.

Ditambah saat ini, pupuk untuk subsidi sendiri terbatas. Sementara jika kehabisan kuota untuk pupuk subsidi sendiri cukup mahal. “Terus yang kedua masalah di biaya pupuk dan obat-obatan termasuk tinggi juga. Ditambah lagi juga sekarang ada pembatasan pembelian pupuk bersubsidinya. Kalaupun nantinya kurang pupuk bersubsidinya, berarti harus beralih ke non-subsidi yang harganya 2-3 kali lebih mahal dibanding pupuk bersubsidi,” jelas Hendrik.


Gambar sebuah persawahan dari atas Desa Cibadak, Bogor. (ACTNews/Eko Ramdani)

Belum lagi harga dari hasil panen yang kurang memuaskan sebab adanya tengkulak. “Setelah lahan itu dipanen, terkadang harga jual dari panen itu memang kurang memuaskan. Dikarenakan adanya tengkulak-tengkulak yang membeli dengan harga rendah. Sedangkan kita juga di kelompok, kemampuan kita terbatas untuk menyerap hasil panen dari petani itu sendiri,” cerita Hendrik.

Lewat program ini, akhirnya Global Wakaf – ACT tidak hanya membantu para petani dari segi modal, tapi juga mendampingi mereka hingga penjualan. Bersaing dengan tengkulak, Global Wakaf – ACT membeli harga gabah sedikit lebih tinggi di pasaran. “Caranya dengan membeli hasil panennya lebih dari harga rata-rata pembelian di pasaran. Jadi ada nilai lebihnya daripada harga rata-rata di pasaran,” singkat Hendrik. Dari panen sebelumnya, 6 ton gabah kering diserap oleh Global Wakaf – ACT sendiri.


Para petani pun senang dengan sistem yang diberlakukan oleh programMasyarakat Produsen Pangan Indonesia. Bahkan para petani berharap, program ini bisa lebih banyak lagi menyapa petani lainnya. “Harapannya untuk anggota MPPI dan petani di Desa Cibadak ini, lebih banyak yang terbantu dengan adanya MPPI. Kita tidak hanya ingin 60 orang ini yang terbantu, tapi seluruh masyarakat petani di Desa Cibadak. Dan untuk petaninya sendiri, selaku petani kita bisa terus bertani,” harap Hendrik mewakili rekan-rekannya. Komentar Cahyadi pun serupa, “Semoga bisa lebih maju lagi, untuk tambahan modal. Biar lebih mengurangi beban juga,” katanya.

Ke depannya, pendampingan dalam bentuk dukungan modal untuk petani akan terus dilakukan Global Wakaf-ACT, begitu juga dengan penyerapan hasil panen petani. Semua aksi kebaikan ini pun tidak pernah lepas dari peran dermawan yang menyalurkan wakaf. Jajang Fadli selaku Koordinator Program MPPI mengatakan, masyarakat masih bisa ikut ambil bagian untuk para produsen pangan ini dengan berwakafmelalui laman Indonesia Dermawan. “Semua perjuangan kita sangat dinanti dan berharga untuk para petani yang menjadi tulang punggung penopang pangan kita semua,” ungkap Jajang. []