Humanity Food Truck Berbagi di Sepanjang Arus Mudik

Humanity Food Truck Berbagi di Sepanjang Arus Mudik

ACTNews, MERAK – Minggu (2/7), merupakan puncak arus balik para pemudik yang akan kembali ke tempat kerjanya, setelah seminggu lamanya mudik, merayakan Lebaran, berkumpul dengan keluarga di kampung halamannya. Di hari inilah kemungkinan ribuan pemudik dari Pulau Sumatera menggunakan kapal feri menyeberangi selat sunda, memadati Pelabuhan Bakauheni dan Pelabuhan Pulo Merak.

Pelabuhan Penyeberangan Pulo Merak merupakan salah satu wilayah yang menjadi pantauan liputan mudik dan arus balik di berbagai media massa, selain di kawasan Pantura, Nagreg dan wilayah lainnya.        

Merak menjadi perhatian media massa karena merupakan pelabuhan di Kota Cilegon, Banten yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Sumatera, yang dipisahkan oleh Selat Sunda. Pemudik dari jawa dan Sumatera khususnya kalangan menengah ke bawah sering menggunakan transportasi via laut melalui jalur ini.

Di momen mudik dan arus balik inilah, ribuan orang hilir mudik menggunakan kapal feri melewati jalur selat sunda, bahkan di saat tidak sedang lebaran pun, setiap harinya ratusan perjalanan feri melayani arus penumpang dan kendaraan dari dan ke Pulau Sumatera melalui Pelabuhan Bakauheni di Lampung. Rata-rata durasi perjalanan yang diperlukan antara Merak - Bakauheni atau sebaliknya dengan feri ini adalah sekitar 2 jam.

Tepat di Lokasi Pelabuhan Pulo Merak inilah selama 2 hari lamanya, Tim ACT mengakhiri Program Humanity Food Truck Ramadan 1438 Hijriyah, setelah sebelumnya menyasar beberapa titik (wilayah) di tiga Provinsi yaitu: di Jawa Barat, DKI Jakarta dan Povinsi Banten.      

Bersinergi dengan Pengurus Bhayangkari Cabang Cilegon, Kepolisian Sektor Pulo Merak dan Pramuka Saka Bhayangkara, Tim ACT di akhir Ramadan 1438 Hijriyah kemarin mendistribusikan 2000 paket buka puasa (ifthar) gratis untuk para pemudik. Implementasi Humanity Food Truck di Pulo Merak ini merupakan Implementasi pamungkas di bulan Ramadan 1438 Hijiriyah.          

Kapolsek Pulo Merak, Kamarullah Yudi (52) merasakan Humanity Food Truck ini sangat bermanfat bagi para pemudik, terutama para pemudik yang menggunakan sepeda motor, yang secara ekonomi merupakan 'kaum' menengah ke bawah. 

“Ujung dari Pulau Jawa menuju Sumatera ini kan Merak. Para pemudik yang akan mudik menuju Lampung, Palembang, Bengkulu dan wilayah Sumatera lainnya sangat terbantu, terutama pemudik yang menggunakan sepeda motor dari Tangerang, Jakarta dan sekitarnya. Selain untuk pemudik, program ini juga sangat bermanfaat bagi anak-anak yatim dan dan masyarakat pra-sejahtera di wilayah kami ini,” jelasnya.

Kamarullah berharap sinergi dengan ACT bisa terus berlanjut, terutama karena di wilayah Merak selain banyak warga yang pra-sejahtera, juga di beberapa daerah ini sering mengalami bencana banjir dan longsor. 

Respon dan dukungan positif juga diungkapkan Ketua Bhayangkari Cabang Cilegon Nining Romdhon (42), dengan mengerahkan 33 personel Pengurus Bhayangkari se-Kota Cilegon, Ibu-ibu Bhayangkari sangat menikmati proses mendistribusikan paket makanan berbuka puasa di Dermaga 6 Pelabuhan Pulo Merak kepada para pemudik pengendara bermotor.      

“Kami sangat menikmati proses distribusi ini, kami mendukung program bagus dari ACT ini. Membantu para pemudik supaya mudiknya lebih nyaman, apalagi sasaran dari program ini sangat tepat sasaran menyasar para pemudik yang menggunakan sepeda motor, yang secara ekonomi adalah menengah ke bawah, kami berharap sinergi ini terus berlanjut,” ujarnya.

Menurut Chef Joni (41), Koordinator Program Humanity Food Truck, Program ini tidak hanya diperuntukan melayani masyarakat yang membutuhkan di bulan Ramadan saja, namun akan terus berlanjut melayani masyarakat yang membutuhkan, diantaranya melayani masyarakat yang sedang tertimpa bencana alam dan bencana sosial, seperti wilayah yang mengalami kerawanan pangan, kumuh, terpencil dan wilayah lainnya yang sangat membutuhkan.              

    

“Memang ternyata seperti itu, sangat melelahkan, capek nya luar biasa. Mulai dari menyiapkan bahan baku, mencari lokasi, memasak, yang hampir seluruhnya dilakukan di tempat terbuka, jadi sangat menguras energi yang sangat luar biasa. Namun kelelahan kami hilang begitu saja, ketika makanan sudah jadi, kemudian didistribusikan dan dinikmati banyak orang,” pungkasnya, penuh bahagia.[]

 

Tag

Belum ada tag sama sekali