Humanity Water Tank Pertama Hadir di Yaman

Armada Humanity Water Tank untuk pertama kali hadir di Yaman. Mampu mendistribusikan hingga 25 ribu liter air tiap harinya, diharapkan armada ini mampu menjadi solusi atas krisis air yang telah lama membelenggu pengungsi.

humanity water tank yaman
Armada Humanity Water Tank di Yaman. (ACTNews)

ACTNews, MARIB – Untuk pertama kalinya, armada kemanusiaan Humanity Water Tank dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) hadir di Yaman. Armada yang dapat mendistribusikan hingga 25 ribu liter air tiap harinya ini, akan berfokus dalam pendistribusian di wilayah Marib. Wilayah ini dipilih karena banyak menampung para pengungsi internal yang memiliki permasalahan dalam mendapatkan pasokan air bersih.

Dalam aksi pertamanya, Humanity Water Tank berkeliling di sejumlah kamp, di antaranya Kamp Rawda, Kamp Sweida, Kamp Saiela, dan Kamp Joe Al Naseem. Kamp-kamp tersebut dilaporkan mengalami pemutusan terhadap jaringan utama air, sehingga para pengungsi harus menempuh perjalanan yang sangat jauh untuk bisa mendapat air.

Said Mukaffiy dari tim Global Humanity Response ACT menjelaskan, dalam satu bulan, armada yang hadir buah kedermawanan masyarakat ini, dapat memenuhi pasokan air untuk sekitar 750 keluarga pengungsi. 

"Program distribusi air bersih ini, diharapkan mampu menyediakan air bersih dan gratis bagi penduduk secara berkelanjutan. Dengan begitu diharapkan mampu melahirkan dampak baik untuk penduduk yang selama ini diambang krisis air,” jelas Said, Kamis (2/12/2021).

Pendistribusian air keliling, disebut Said, dapat mengurangi risiko dan ancaman yang penduduk hadapi ketika harus bepergian jauh untuk mendapat air. Sebab, menurut Said, tak jarang para pengungsi harus melewati daerah berbahaya yang dekat dengan garis konflik untuk menuju sumber air.

Selain itu, kemudahan terhadap akses air bersih diharapkan memberi dampak signifikan pada pengurangan penyebaran penyakit dan epidemi. Di mana penyakit tersebut timbul akibat pengabaian kebersihan diri imbas air yang tak mencukupi. Penyakit-penyakit tersebut biasanya penyakit kulit hingga kolera.

"Tidak hanya itu, distribusi air gratis ini juga dapat membantu kestabilan psikologis dan sosial para pengungsi. Serta mengurangi kekerasan terhadap perempuan akibat masalah keluarga yang terkadang terjadi imbas penggunaan air di rumah," pungkas Said.[]